Tugas Cerpen Ilmu Budaya Dasar
PERJALANAN
Anjani Kinan Prananda atau yang biasa dipanggil Jani
merupakan gadis kelahiran Bandung. Ia adalah anak seorang TNI. Ibunya adalah
seorang ibu rumah tangga. Sebagai anak dari seorang TNI, Jani harus siap untuk
pindah-pindah sekolah. Saat ini, Jani harus pindah dari Lombok ke Bandung.
Karena kepindahannya ke Bandung, Jani sangat menyukainya. Karena di Bandung ia
mempunyai kenangan yang indah bersama kakeknya yang sudah meninggal.
Jani sekarang sudah menginjak sudah kelas 11 SMA. Dulunya
ia bersekolah di SMAN 5 Lombok. Namun, sekarang ia bersekolah di SMAN 15
Bandung. Pada saat hari pertama ia pindah sekolah di Bandung, ia bangun
kesiangan.
"Jani bangun sayang ini sudah jam berapa nanti kamu
bisa telat ke sekolah lho Jani." ucap ibu Jani.
"Iya mah sebentar lagi. Ini masih jam 04.30 mah Jani
masih ngantuk." ucap Jani.
"Sekarang sudah jam 05.50 sayang kamu bisa telat.
Nanti kalau kamu telat mamah ga tanggung jawab lho ya." ucap ibu Jani.
"Astaghfirullah mamah kenapa ga bangunin aku dari
tadi sih." ucap Jani.
Jani pun dengan langkah terburu-buru langsung lari ke
kamar mandi untuk mandi. Lalu setelah selesai mandi, Jani langsung pergi
kesekolah tanpa sarapan terlebih dahulu.
Pada saat sedang menunggu angkot dijalan, Jani sampai
mendumel sendiri karena angkotnya belum sampai.
"Ih mana sih angkotnya, ini udah jam berapa gue kan
bisa telat kalo angkotnya belum dateng-dateng." ucap Jani karena ia kesal
angkotnya belum datang-datang.
***
Setelah sampai di depan gerbang, Jani harus berlari
karena sebentar lagi gerbang akan ditutup. Jani akhirnya sampai di depan
gerbang yang nyaris tertutup, apabila ia tidak berlari dengan cepat.
Setelah itu Jani bingung karena ia belum tahu ia akan
masuk ke kelas mana. Tidak jauh dari tempat Jani berdiri, ada seseorang
perempuan yang melihat Jani kebingungan. Lalu perempuan itu bertanya kepada
Jani.
"Lo anak baru ya ? Kok gue gapernah liat muka lo sih
disekolah ini." tanya seorang perempuan yang Jani belum ketahui namanya
itu.
"Iya gue anak baru, bisa tunjukkin ke gue ga dimana ruang
guru ?" tanya Jani kepada seorang perempuan itu.
"Ayo sini gue tunjukkin dimana ruang guru. Btw, nama
gue Karina Dea Amalia. Lo bisa panggil gua Karin. Lo pindahan dari mana ya kalo
gue boleh tau ?" tanya Karin kepada Jani.
"Gue pindahan dari Lombok, tapi gue lahir di Bandung
Rin." ucap Jani ke Karin
"Oh gitu, yaudah kalo gitu gue anter lo ke ruang
guru. Yok Jan." ucap Karin.
Setelah sampai di ruang guru Jani bertanya kepada salah
seorang guru yang ada disana.
"Permisi bu, saya anak baru pindahan dari Lombok,
saya belum tau kelas saya dimana. Boleh ibu tunjukkin dimana kelas saya ?"
tanya Jani kepada guru tersebut.
"Oh mari ibu antar ke ruang tata usaha untuk
mengetahui kamu dikelas berapa. Saya Bu Aminah guru Biologi." ucap Bu
Aminah kepada Jani.
Setelah Jani mengetahui dia mendapat kelas berapa, akhirnya Jani mencari
kelasnya. Setelah menemukan kelasnya, Jani mengetuk pintu untuk bisa masuk
kedalam kelasnya.
"Permisi pak, saya izin masuk. Saya murid baru pindahan dari
Lombok." ucap Jani kepada guru laki-laki tersebut.
"Oh iya silahkan masuk. Sekalian kamu perkenalkan diri kamu kepada
teman-teman baru kamu." ucap guru laki-laki tersebut kepada Jani.
"Perkenalkan nama gue Anjani Kinan Prananda. Kalian bisa panggil gue
Jani. Gue pindahan dari Lombok. Salam kenal semua." ucap Jani sambil
memperkenalkan dirinya kepada teman-teman barunya.
Setelah memperkenalkan diri, Jani mencari bangku untuk ia duduki. Saat itu
bangku yang kosong hanya satu. Lalu Jani menuju bangku kosong tersebut dan
melihat orang itu ternyata Karin. Gadis yang ia temui pagi tadi saat sedang
mencari ruang guru.
Lalu Jani bertanya kepada Karin. "Rin, gue boleh kan duduk disamping
lo ?"
"Sini-sini boleh kok Jan, malah dengan senang hati
gue duduk sama lo." ucap Karin kepada Jani.
"Btw, lo udah tau mata pelajaran hari ini belum Jan
?" tanya Karin kepada Jani.
"Gue belum tau sih pelajaran hari ini apa aja. Tapi
gue udah bawa buku tulis kosong yang lumayan banyak kok." jawab Jani
kepada Karin.
"Oh yaudah kalo gitu bagus." jawab Karin.
***
Jani belum tau dia akan ikut ekstrakulikuler apa karena
pada sekolah sebelumnya Jani tidak mengikuti ekskul karena disana ekskul itu
tidak wajib. Lalu Jani bertanya kepada Karin disekolah ini ada ekskul apa aja.
"Rin, emang disekolah ini ekskul itu wajib ya ?
Soalnya disekolah gue dulu ekskul itu ga wajib." tanya Jani kepada Karin.
"Iya Jan, kalo disini ekskul itu wajib. Soalnya kalo
ga ekskul nanti bisa ga naik kelas. Emang ada apa Jan lo nanya kayak begitu
?" jawab Karin.
"Sebenernya gue itu masih bingung mau ikut ekskul
apa soalnya disekolah gue dulu ekskul itu ga wajib." ucap Jani.
"Oh kalo begitu lo ikut ekskul yang menarik
perhatian lo aja Jan." ucap Karin.
"Gue ada kepikiran buat ikut ekskul lukis sih.
Soalnya gue mau melatih bakat ngelukis gue." jawab Jani.
"Wih bagus tuh ekskul lukis. Tadinya gue berminat
tapi karena gue gabisa ngelukis jadi ya gajadi deh gue ikut." Ucap Karin.
"Emang lo ikut ekskul apa Rin ?" tanya Jani
kepada Karin.
"Gue ikut ekskul bultang Jan." jawab Karin.
"Wih mantep tuh lo ikut bultang." jawab Jani.
***
Pada saat jam ekskul, Jani bingung harus pergi keruangan
mana karena dia belum tau ruangan lukis. Lalu tidak jauh dari tempat Jani
berdiri, ada seorang laki-laki yang tidak Jani ketahui. Lalu Jani berinisiatif
untuk bertanya kepada laki-laki tersebut.
"Hei lo tau ga dimana ruangan ekskul lukis ?"
tanya Jani kepada cowok tersebut.
"Gue tau ruangan lukis. Tapi emang ada perlu apa lo
sama lukis ?" tanya cowok yang belum diketahui namanya itu.
"Gua anak baru ekskul lukis jadi gua belum tau
dimana ruangan ekskul lukis. Bisa lu tunjukkin ga dimana ekskul lukis ?"
ucap Jani kepada cowok tersebut.
"Yaudah ayo gua anter lu ke ruangan ekskul
lukis." jawab cowok tersebut.
***
Jani mengikuti ekskul lukis dengan semangat dan senang.
Dia pun menyukainya karena lukis bisa mengekspresikan apa yang sedang kita
rasakan. Saat ekskul Jani sempat izin kepada pelatih ekskul untuk ke kamar
mandi. Saat sedang menuju kamar mandi, Jani sudah tidak bisa menahan karena ia
sudah menahan untuk ke kamar mandi sejak lama.
Akhirnya Jani terpaksa harus berlari supaya bisa cepat
sampai ke kamar mandi. Namun, saat menuju ke kamar mandi ia sempat menabrak
seorang cowok. Tapi, Jani tidak menghiraukannya karena yang ada dipikirannya
saat ini hanya cepat sampai ke kamar mandi.
"Woy, lo kalo jalan liat-liat kek jangan jalan
seenaknya dipikir ini jalan punya nenek moyang lo apa." ucap cowok itu
dengan kesal.
"Buset bener-bener ni orang gua ngomong dikacangin.
Awas aja lo kalo ketemu lagi sama gue." ucap cowok tersebut.
***
Keesokannya saat Jani dan Karin menuju ke kantin, ada
seorang cowok yang dengan sengaja menabrak Jani dengan kencang sampai Jani
hampir terjatuh. Lalu Jani marah kepada cowok tersebut.
"Eh lo kalo jalan liat-liat dong jangan
seenaknya." ucap Jani dengan kesal.
"Maaf ya gue nabrak lo. Tapi gua mau minta maaf lagi
nih soalnya gua nabrak lu sengaja." ucap cowok tersebut dengan nada
mengejek.
"Kenapa lo sengaja nabrak gua. Padahal kan gua gaada
salah apa-apa sama lo." jawab jani.
"Lo ga sengaja nabrak gue ? Heiii lo itu pernah
nabrak gue waktu itu. Udah gitu lo ga minta maaf lagi malah langsung
pergi." ucap si cowok
"Kapan gue pernah nabrak lo. Gue gapernah ngerasa
nabrak lo." jawab Jani dengan penuh kesal.
"Waktu itu lo pernah nabrak gue pas mau ke arah
kamar mandi." ucap si cowok.
"Yaudah kalo begitu gue minta maaf karna ga sengaja
nabrak lo." jawab Jani.
"Kalo begitu gue gamao maafin lo." jawab si
cowok.
"Awas lo ya." jawab Jani.
***
Jani langsung menarik Karin untuk langsung masuk ke
kantin dan meninggalkan si cowok yang belumia ketahui namanya itu. Karin yang
menyaksikan perdebatan tadi hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Jan, lo tau ga yang tadi ribut sama lo itu siapa
?" tanya Karin kepada Jani.
"Emang siapa Rin cowok yang tadi ?" tanyab Jani
kepada Karin.
"Cowok yang abis ribut sama lo itu Jipal." ucap
Karin.
"Jipal ? Siapa Jipal ?" jawab Jani.
"Dia itu Jipal, anak ekskul lukis yang terkenal satu
sekolah karena lukisannya yang bagus itu." jawab Karin.
"Hah lo serius dia anak ekskul lukis ?" tanya
Jani.
"Iya Jan. Masa lo gatau sih kalo dia satu ekskul
sama lo." ucap Karin.
"Tapi serius Rin gue gatau kalo dia itu anak ekskul
lukis." jawab Jani.
"Yaudah lah Jan. Tapi lo harus hati-hati soalnya gue
pernah denger dia itu jarang ngobrol sama cewek apalagi sampe kesel kayak
tadi." ucap Karin.
"Emang kenapa Rin dia gapernah ngobrol sama cewek
sampe gitu ?" tanya Jani kepada Karin.
"Gue juga gatau sih kenapa nya sampe dia bisa sampe
kayak begitu." jawab Karin.
"Yaudah lah lagi pula gue udah gaada urusan sama dia
Rin." jawab Jani.
Cowok yang tadi sempet debat sama Jani itu adalah Zikri
Naufal. Zikri Naufal atau yang biasa dipanggil Jipal. Jipal itu panggilan untuk
Zikri Naufal dari teman-temannya. Jipal dikenal sebagai cowok yang irit
ngomong, gapernah keliatan deket sama cewek. Sekalinya ngobrol sama cewek hanya
sepatah dua kata aja ga sampe panjang.
***
suatu hari Jipal dipanggil ke ruang guru oleh wali
kelasnya.
"Jipal lu dipanggil sama Bu Mery disuruh ke ruang
guru." ucap salah seorang teman Jipal.
Saat menuju ke ruang guru Jipal berfikir apa alasan ia
dipanggil ke ruang guru. Padahal ia tidak membuat kesalahan yang fatal
akhir-akhir ini. Namun, saat hampir sampai ke ruang guru Jipal melihat
perempuan yang ia ketahui namanya itu Jani. Iya, dia adalah Jani. Perempuan
yang beberapa bulan akhir ini menjadi teman ributnya.
"Loh Jani ngapain ke ruang guru ?" pikir Jipal
dalam hati.
"Tuh cowok mau ngapain sih ke ruang guru juga
?" pikir Jani dalam hati.
Akhirnya mereka masuk ke ruang guru dan menuju ke meja
yang sama, yaitu meja Bu Mery. Lalu Bu Mery memberitahu bahwa akan ada lomba
lukisan se-Bandung yang akan diadakan di Alun-Alun Kota Bandung.
"Kalian Ibu panggil kesini karena Ibu mau bilang ke
kalian kalo akan diadakan lomba lukisan se-Bandung. Ibu mau kalian berdua ikut
lomba lukisan itu ya." ucap Bu Mery kepada Jani dan Jipal.
"Saya sama dia untuk lomba lukis bu ?" tanya
Jipal kepada Bu Mery.
"Iya Jipal, kamu sama Jani ibu tugaskan untuk lomba
melukis se-Bandung." jawab Bu Mery.
"Tapi saya gamau ikut lomba lukis itu bu." ucap
Jani kepada Bu Mery.
"Kenapa kamu tidak mau ikut lomba lukis Jani ?"
tanya Bu Mery kepada Jani.
"Saya rasa lukisan saya masih biasa-biasa aja bu.
Masih banyak siswa lain yang lukisannya lebih bagus dari pada saya." jawab
Jani kepada Bu Mery.
"Tapi ibu maunya kamu sama Jipal yang ikut lomba
lukisnya Jan." ucap Bu Mery kepada Jani.
"Yaudah kalau begitu saya ikut lombanya deh
bu." jawab Jani untuk mengiyakan perintah Bu Mery.
"Bagus kalau begitu Jan. Kamu harus ikut ya Pal,
karena ibu ga terima penolakan." ucap Bu Mery.
"Iya Bu, saya akan ikut lomba lukis itu." jawab
Jipal kepada Bu Mery.
***
Sebenernya Jani masih bingung apakah dia akan ikut lomba yang disuruh sama
Bu Mery apa tidak. Karena ia bingung, akhirnya iya menanyakan hal tersebut
kepada Karin. Ia ingin menanyakan pendapat Karin apakah Jani harus mengikuti
lomba tersebut apa tidak.
'Kariiinnnn, gue mau nanya pendapat ke lo soalnya gue lagi bingung ini.'
tanya Jani kepada Karin melalui chatting.
Tidak lama Karin pun membalas....
'Lo mau nanya pendapat apa Jan ke gue ?" tanya Karin kepada Jani.
'Jadi gua kan disuruh ikut sama Bu Mery lomba lukis. Tapi gue bingung ikut
apa ga ya ?" tanya Jani kepada Karin.
'Saran gue sih mending lo ikut aja kan lumayan buat nambah-nambah
pengalaman lo Jan." jawab Karin kepada Jani.
'Tapi masalahnya gue dipasangin sama si Jipal Rin buat ikut lomba nya.'
ucap Jani.
'Anjir, lo beneran sama si Jipal disuruh ikut lomba lukis ?" tanya
Karin karena ia masih tidak percaya atas apa yang Jani ucapkan.
'Menurut lo gue bohong gitu.' jawab Jani dengan kesal karena Karin tidak
percaya kepadanya.
'Ya maap Jan, abis gue masih ga nyangka anjir kalo lo dipasangin sama si
Jipal buat lomba.' jawab Karin karena masih tidak percaya dengan apa yang Jani
ucapkan.
'Jadi gimana nih, gue lombanya apa ga ?" tanya Jani untuk memastikan
jawabannya kepada Karin.
'Ya menurut gue sih mending lo ikut aja. Itung-itung sekalian lu bisa
nanya-nanya sesuatu ke si Jipal.' jawab Karin.
'Dih mau nanya apaan gue ke dia. Lagipula kan gue gaada urusan apa-apa sama
dia Rin.' timbal Jani dengan kesal.
'Yaudah iya maaf. Yaudah mending lo siapin diri lo aja buat lomba itu.'
jawab Karin.
'Udah ah gue mau tidur ini udah malem soalnya. Waktunya gue buat tidur. Bye
Jani.' ucap Jani kepada Karin sambil mengakhiri chattingannya.
'Yaudah deh makasih Karin. Bye.' jawab Jani sambil mengakhiri chattingannya
dengan Karin.
***
***
Saat hari
perlombaan berlangsung.....
Saat hendak
pergi ke sekolah untuk berangkat bersama menuju tempat perlombaan, Jani masih
bingung apakah dia akan mengikuti lomba tersebut apa tidak. Jani sebenarnya mau
ikut lomba itu, tetapi masalahnya itu partner dia untuk lomba itu adalah Jipal.
Sebenernya antara Jani dan Jipal tidak ada apa-apa tapi entah kenapa Jani
merasa sebal saja kepada Jipal walaupun tidak ada masalah apapun.
Akhirnya
Jani memutuskan untuk mengikuti lomba tersebut. Karena ia ingin mendapatkan
pengalaman. Walaupun sebenernya ia merasa kurang sreg sama si
Jipal.
Sebenarnya
dalam benak Jipal ia bingung saat diberitahu bahwa ia akan diikuti lomba oleh
Bu Mery. Apalagi ia akan dipasangkan dengan Anjani Kinan Prananda atau yang
biasa dipanggil Jani. Ia bingung harus merasa senang atau kesal, karena ia
belum tau sebenarnya perasaannya ke Jani itu seperti apa.
'Sebenernya
gue ini kenapa sih. Kenapa gue kepikiran terus ama si Jani.' pikir Jipal dalam
hati.
'Plis lah
hati gue kenapa bisa kayak begini Tuhan.'
'Gue mau
fokus dulu sama lomba lukis ini. Jadi plis lah jangan mikir yang aneh-aneh
dulu.' pinta Jipal agar ia bisa lebih fokus terhadap lomba.
***
Saat
perlombaan berlangsung, karena Jani dan Jipal mewakili sekolah mereka, mereka
duduk bersebelahan. Pada saat perlombaan berlangsung, kuas Jani terjatuh ke
lantai. Jipal berniat mengambil kuas Jani, tetapi Jipal tidak sengaja menginjak
kuas kesayangan Jani. Kuas tersebut akhirnya patah. Jani yang melihat kuas
kesayangannya patah, ia langsung marah kepada Jipal.
"YA
AMPUN LO ITU NIAT GA SIH BUAT NOLONGIN GUE ?" tanya Jani kepada Jipal
dengan penuh amarah.
"Eh
maaf Jan gue ga sengaja bikin kuas lo jadi patah." jawab Jipal dengan
merasa bersalah.
"TERUS
KALO KUAS GUE PATAH, GIMANA GUE MAU NGELANJUTIN LUKISAN INI. APALAGI WAKTUNYA
SEBENTAR LAGI." ucap Jani.
Karena Jipal
dan Jani bertengkar akhirnya juri-juri pun menghampiri mereka berdua untuk
mengetahui apa yang terjadi dengan mereka.
"Ada
apa ini kok malah terjadi keributan ?" tanya juri penasaran.
"Ini
pak, bu kuas saya tadi jatuh terus tidak sengaja cowok ini mematahkannya. Lalu
saya bingung bagaimana cara melanjutkan lukisannya." jawab Jani.
"Bukannya
kalian ini satu sekolah ? Lantas mengapa kalian malah bertengkar ?" tanya
sang juri.
"Iya
pak, bu maaf saya membawa kuas cadangan jadi kami masih bisa untuk melanjutkan
perlombaan ini." ucap Jipal.
Setelah
Jipal berbicara seperti itu, akhirnya juri tersebut pun meninggalkan mereka
berdua. Dan Jani pun meredam emosinya untuk sementara waktu. Lalu dengan kuas
cadangan tersebut Jani melanjutkan lukisannya.
***
***
Akhirnya,
tibalah dihari yang paling ditunggu-tunggu dan juga membuat penasaran banyak
siswa. Yap, hari itu adalah Hari pengumuman lomba.
Setelah
perlombaan selesai, juri menilai lukisan dari setiap siswa-siswi yang mewakili
sekolah mereka. Saat diumumkan ternyata Jipal mendapat Juara 2 dan Jani tidak
mendapatkan Juara. Akhirnya Jani kesal kepada Jipal karena akibat ulahnya
mematahkan kuasnya sehingga ia jadi tidak mendapatkan Juara. Karena kejadian
tersebut Jani menjadi benci terhadap Jipal.
'Kalo aja si
Jipal ga bikin ulah pasti gua bisa dapet juara.' pikir Jani di dalam hatinya.
Sejak
pengumuman lomba kemarin, Jani menjadi benci terhadap Jipal. Dan disekolahpun
apabila ia tidak sengaja melihat Jipal atau berpapasan dengan Jipal ia akan berusaha
menghindar, karena dengan melihat muka Jipal akan membuat emosi Jani menjadi
meningkat.
***
Jipal mulai
menyadari bahwa Jani sikapnya menjadi aneh. Namun, Jipal sendiri belum
mengetahui penyebab pasti mengapa Jani menjadi seperti itu. Karena perubahan
sikap Jani yang drastis, Jipal mulai menyadari bahwa ada perasaan di dalam
dirinya yang merasakan kehilangan sesuatu. Tetapi, Jipal masih belum
memberitahu perasaan itu kepada siapa-siapa. Jadi, ia hanya menyimpan perasaan
itu di dalam dirinya saja.
Tetapi,
Jipal merasa perasaan itu hanyalah sementara. Ia berfikir perasaan itu akan
hilang dalam sesaat.
Beberapa
bulan kemudian....
Setelah
waktu beberapa bulan kemarin, Jipal masih kepikiran atas perubahan sikap Jani
kepadanya. Apakah ia harus menanyai kepada Jani atau tidak. Akhirnya, setelah
Jipal memikirkan untuk menanyai tentang ada yang mengganjal dihatinya, ia pun
memberanikan diri untuk menanyakan ke Jani atas perubahan sikapnya selama
beberapa bulan belakangan ini.
'Apa gue
harus nanyain ke Jani yaa, sebenernya dia ada masalah apa sama gue ya ?' pikir
Jipal dalam hati.
'Tapi, kalo
nanti pas gue tanya ke dia dia malah mikir yang aneh-aneh gimana'
'Huaaaaaaa,
Tuhan gue harus gimana sekarang ?' tanya Jipal kepada dirinya sendiri.
'Tapi kalo
gue ga nanya yang ada gue malah kepikiran terus.'
'Daripada
gue kepikiran terus, mending gue tanyain aja deh ke dia besok.'
Keesokan
harinya, saat sudah berada disekolah, Jipal segera mencari Jani untuk
menanyakan atas perubahan sikap Jani beberapa bulan kebelakang ini. Namun, saat
Jipal mencari-cari Jani ke penjuru sekolah, ia tidak menemukannya. Akhirnya,
Jipal memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan Jani kepada Karin.
"Rin,
lo tau ga Jani dimana, soalnya gua udah nyariin dia kemana-mana tapi ga
ketemu." tanya Jipal kepada Karin.
"Emang
ada perlu apa lo nyari si Jani ?" tanya Karin kepada Jipal.
"Ada
hal penting yang mau gue tanyain sama dia. Jadi, lo tau ga dimana dia ?"
tanya Jipal sekali lagi.
"Biasanya
sih kalo jam segini dia suka ke perpus." jawab Karin.
"Oke
oke, kalo gitu makasih ya Rin." ucap Jipal.
***
Setelah
mengetahui keberadaan Jani, Jipal tanpa pikir panjang langsung menghampiri Jani
di perpustakaan. Dan betul saja, saat Jipal sudah sampai di perpustakaan, ia
dengan mudah menemukan seseorang yang sedang ia cari. Dan orang itu adalah
Jani.
Saat itu
juga Jipal langsung menghampiri Jani untuk menanyakan perihal atas perubahan
sikap Jani.
"Jani,
gue mau tanya sesuatu ke lo. Gue mohon lu jangan menghindar dari gue."
ucap Jipal.
"Lo mau
nanya apa ke gue ? Gue gapunya banyak waktu, jadi kalo lo mau tanya sesuatu
mending lo tanya sekarang." ucap Jani.
"Kenapa
lo beberapa bulan belakangan ini gue liat lo ngehindar dari gue ?" tanya
Jipal.
"Gue ga
ngehindar dari lo. Lonya aja kali yang merasa kalo gue ngehindar dari lo."
jawab Jani.
"Tapi
gue ngerasa kalo lo itu ngehindar dari gue. Dan gue ngerasa kalo lo ngehindarin
gue itu pas abis lomba." ucap Jipal.
"Oh iya
gue ngehindarin lo itu karna gue kesel sama lo, gue benci sama lo." jawab
Jani.
"Kenapa
lo kesel, benci sama gue. Emang gue ada salah apa sama lo sampe-sampe lo kesel
ama gue." tanya Jipal.
"Gue
kesel sama lo karena lo udah matahin kuas kesayangan gue. Lo tau kenapa kuas
itu menjadi kuas kesayangan gue ?" ucap Jani dengan penuh emosi.
"Emang
kenapa kuas itu jadi kuas kesayangan lo ? Kayaknya gue liat-liat kuas itu
biasa-biasa aja." tanya Jipal.
"Kuas
itu pemberian terakhir dari almarhum kakek gue makanya itu kuas jadi kuas
kesayangan gue dan lo dengan seenaknya matahin kuas itu !!!!" jawab Jani.
"Kalo
untuk itu gue minta maaf ke lo. Tapi beneran gue ga bermaksud buat matahin kuas
lo, apalagi itu kuas kesayangan lo." ucap Jipal dengan penuh penyesalan.
"Gue
udah maafin lo untuk soal itu, tapi maaf gua masih kesel dan benci sama lo. Dan
permisi, gue harus pergi sekarang." jawab Jani.
"Lo
boleh kesel sama gue, lo boleh benci sama gue. Tapi gue mohon lo jangan jauhin
gua, jangan hindarin gue." pinta Jipal.
"Apa
hak lo larang-larang gue buat jauhin lo ? Emang lo siapa gue, sampe gue harus
nurutin mau lo." tanya Jani.
"Gue
sayang sama lo Jan, gue gabisa nahan lagi buat ga ngomong ini sama lo."
jawab Jipal.
"Lo
sayang sama gue ? Tapi kenapa ?" tanya Jani.
"Gue
gatau sejak kapan perasaan gue ini muncul, tapi semenjak lo ngindarin gue, gue
merasa kehilangan lo Jan." jawab Jipal.
"Jadi
gue mohon lu jangan jauhin gue." pinta Jipal.
"Gue
harus pergi sekarang." ucap Jani.
***
Setelah
kejadian di perpustakaan, Jani menjadi semakin menghindar dari Jipal. Ia merasa
belum siap untuk bertemu dengan Jipal. Hari berganti hari, Jani pun masih
menghindari Jipal. Namun, Jipal sendiri masih berusaha untuk mendekati dan
membuat Jani tidak kesal dan benci kepadanya lagi.
Jipal merasa
lama-kelamaan sikap Jani tak kunjung membaik, yang ada Jani makin menjauhinya
sejak kejadian di perpustakaan.
Beberapa
bulan kemudian.......
Sebentar
lagi Jipal dan Jani akan memasuki kelas 12. Pada saat itu juga, Jipal dan Jani
masih belum bisa membaik. Namun, Jipal masih belum bisa berhenti untuk
meluluhkan hati Jani.
Setelah
kenaikan kelas, akhirnya Jani tersadar bahwa selama ini ia sudah bersikap tidak
baik terhadap Jipal. Akhirnya, ia memutuskan untuk bisa bersikap baik kepada
Jipal. Lalu, ia meminta saran kepada Karin apa yang bisa ia lakukan untuk
meminta maaf dan bersikap baik kepada Jipal. Jani pun langsung menghubungi
Karin lewat telefon.
'Rin, gue
mau nanya sesuatu ke lo.' tanya Jani kepada Karin.
'Lo mau
nanya apa Jan ke gue ?' jawab Karin.
'Menurut lo,
apa selama ini sikap gua ke Jipal itu jahat ga sih ?' tanya Jani kepada Karin.
'Menurut gue
sih ya Jan, sikap lo ke Jipal itu udah kelewat bates, sebenernya itu lo sama
dia ada masalah apa sih sampe lo ngindarin dia berbulan-bulan ?' tanya Karin.
'Gue sama
dia adalah masalah tapi gue gabisa cerita ke lo tentang masalah gue itu.' jawab
Jani.
'Yaudah kalo
lo gamau cerita ke gue gapapa. Tapi gue minta ke lo, lo ubah sikap lo yang
menurut gue masih kayak anak kecil.' ucap Karin.
'Iya Rin,
sekarang gue mau kok ubah sikap gue ke dia. Tapi sebenernya gue mau ngasih tau
lo suatu hal yang berkaitan sama si Jipal.' ucap Jani.
'Lo mau
ngasih tau apa emang Jan ?' tanya Karin.
'Sebenernya
Jipal itu udah pernah bilang ke gue kalo dia itu sayang sama gue. Tapi gue
masih bingung sama perasaan gue sendiri ke dia itu gimana.' ucap Jani.
'Hah lo
serius kalo si Jipal udah bilang itu ke lo ?' tanya Karin karena tidak percaya.
'Iya gue
serius Rin, dia sendiri yang bilang ke gue.' jawab Jani.
'Saran gua
mending lo ikutin aja apa kata hati lo. Karena itu bakal jadi jawaban yang
terbaik untuk lo kedepannya.' saran Karin.
'Oke kalo
gitu. Makasih Karin byeee.' ucap Jani sambil menutup telfonnya.
***
Sejak saat
itu, Jani sudah mulai bersikap baik dan juga sudah mulai membuka hatinya untuk
Jipal. Lalu ia berusaha mencari Jipal untuk meminta maaf kepada Jipal atas
sikapnya yang tidak baik selama ini. Akhirnya, ia pun menemukan Jipal sedang
duduk di bawah pohon. Tidak lama setelah ia melihat Jipal, Jani langsung
menghampiri Jipal.
"Hai
Jipal, lama kita ga ketemu." ucap Jani dengan tersenyum kaku.
"Hai
juga Jani. Ada perlu apa lo samperin gue ?" tanya Jipal tanpa basa-basi.
"Sebenernya
ada yang mau gue omongin sama lo." ucap Jani.
"Lo mau
ngomong apa sama gue ?" tanya Jipal.
"Sebenernya
gue mau minta maaf atas sikap gue selama ini yang ga baik sama lo." jawab
Jani.
"Gue
udah maafin lo dari lama kok. Lagipula, kan lo bersikap kayak gitu juga karna
salah gue juga jadi wajar kalo lo bersikap kayak kemaren." ucap Jipal.
"Makasih
Pal lo udah maafin gue." jawab Jani.
"Iya
sama-sama Jan." jawab Jipal.
"Oiya
sebenernya ada yang mau gue kasih tau ke lo." ucap Jani.
"Lo mau
ngasih tau apa Jan ?" tanya Jipal.
"Gue
udah mau buka hati buat lo Pal." jawab Jani.
"Hah lo
serius Jan mau buka hati lo buat gue ?" tanya Jipal untuk memastikan.
"Iya
gue serius Jipal." jawab Jani.
"Makasih
ya Jan lo udah mau buka hati lo buat gue." ucap Jipal.
"Iya
sama-sama Pal. Gue makasih sama lo karna lo udah sabar sama gue selama
ini." ucap Jani.
"Iya
sama-sama juga Jan." jawab Jipal.
***
Setelah
kejadian tersebut, akhirnya hubungan Jani dan Jipal menjadi membaik. Mereka pun
berhubungan selayaknya remaja pada umumnya. Tetapi, baik Jani maupun Jipal
tidak ada yang membahas tentang status hubungan mereka. Karena menurut mereka,
selagi tidak ada yang merasa rugi karena memiliki hubungan tanpa status atau
yang biasa disebut friendzone mereka baik-baik saja.
***
***
Beberapa bulan kemudian......
Hubungan Jani dan Jipal sampat saat ini masih berjalan dengan baik. Namun,
saat menjelang Ujian Nasional hubungan Jani dan Jipal menjadi sedikit renggang.
Entah apa yang menjadi penyebab renggangnya hubungan Jani dan Jipal. Suatu
ketika, Jipal merasa ada yang aneh dengan sikap Jani belakangan ini. Akhirnya,
Jipal pun memberanikan diri untuk menanyakan langsung kepada Jani agar ia tidak
penasaran karena hubungannya dengan Jani semakin menjauh.
Namun, berkali-kali Jipal ingin mendekati Jani, ia seolah-olah menghindar
dan pergi dari hadapan Jipal. Hal tersebut semakin membuat Jipal yakin bahwa
ada sesuatu yang disembunyikan Jani.
Hingga suatu ketika, Jipal diam-diam mengikuti perginya Jani, ternyata Jani
masuk ke perpustakaan. Akhirnya Jipal ikut masuk dan bersembunyi di dalam
perpustakaan. Saat waktu dirasa pas, Jipal menghampiri Jani secara diam-diam
dan dari belakang agar Jani tidak melihatnya.
Akhirnya Jipal berhasil duduk di sebelah Jani, Janipun segera bangkit,
belum sempat pergi tangannya sudah dicekal oleh Jipal. Akhirnya secara terpaksa
mereka berdua memulai obrolan.
"Jan, lo kenapa sih, akhir-akhir ini lo menjauh dari gue, tiap ketemu
gue jangankan ketemu, liat gue aja lo langsung pergi. Sebenernya ada apa sih,
cerita dong sama gue." Jipal yang memulai obrolan
"Gk, itu cuma perasaan lo aja kali, gue biasa aja tuh" Jani
berusaha mengelak
"Apa iya cuma perasaan gue aja, ahh tapi enggak deh, gue ngerasa dia
emg ngejauhin gue" Jipal berperang dalam batinnya.
"Udah gk ada lagi kan? Udah ya gue mau pergi dulu mau belajar,
bayy." Jani tergesa-gesa keluar dari perpus.
"Eh tunggu dulu, yah udah pergi duluan, kenapa si sebenernya ?"
Jipal frustasi karena tidak mendapat jawaban yang jelas dari Jani.
Hingga tidak terasa, UNpun selesai. Setelah insiden obrolan di perpus,
Jipal dan Jani sudah tidak terlibat obrolan dan tidak pernah saling bertemu,
walaupun mereka satu sekolah. Hubungan mereka pun dirasa sudah sangat renggang.
Karena tidak sabar dan merasa penasaran bagaimana kelanjutan hubungan mereka,
Jipal pun mulai mencari kembali keberadaan Jani. Ia menemukan Jani di taman
belakang sekolah yang sepi sehingga ia bisa dengan leluasa mengobrol dengan
Jani.
"Hai Jan, lama yaa kita gak kaya gini lagi, ngobrol bareng, nongki
bareng, main bareng, padahal kita satu sekolah, kangenn deh masa-masa itu
lagi." Jipal bercerita sambil matanya menerawang ke depan memutar kembali
kenangan dulu
Jani pun terdiam cukup lama, sambil memikirkan jawaban apa yang akan
diberikan untuk Jipal. Akhirnya, tidak lama setelah itu Jani pun angkat bicara.
Berusaha memberikan penjelasan yang selama ini ingin ia jelaskan kepada Jipal.
"Pal, sebelumnya gue minta maaf yaa atas sikap gue kemarin pas di
perpus, gue cuek banget sama lo, bahkan langsung tiba-tiba pergi. Terus juga,
sebenernya, ada yang mau gue omongin ama lo Pal." ucap Jani kepada Jipal.
"Lo mau ngomong apa Jan ? Kalo lo mau ngomong, ngomong aja kali gausa
canggung kek gini. Kek ama siapa ae anjir lu." balas Jipal.
"Jipal, kayaknya kita sampe disini aja ya. Soalnya, gue udah gabisa
sama lo lagi. Gue harap, setelah ini lo bakal bahagia ya Pal." ucap Jani
kepada Jipal.
"Mmaksud lo apa Jan ngomong kayak begitu ? Gue ga ngerti lo ngomong
apa Jan." Tanya Jipal kepada Jani karena ia tidak mengerti apa yang
dibicarakan Jani.
"Gue maunya kita cukup jadi teman aja. Karena, untuk saat ini gue mau
lanjutin pendidikan gue dulu. Maaf ya pal, dan terimakasih untuk semua
kenangannya, gue seneng bisa punya kenangan indah sama lo." Ucap Jani
kepada Jipal.
Jipal sempat merasa kaget, namun dia mencoba bersikap biasa saja, walaupun
dalam hatinya sangat merasa sedih.
"Oh oke, klo emang ini yang lo mau, gue turutin kok, semangatt
menempuh pendidikan yang lebih tinggi yaa, janji sama gue lo harus sukses. Kalo
lo ga sukses gue akan marah sama lo." Ucap Jipal dengan lapang dada
menerima kenyataan ini.
"Lo juga pal, harus sukses. Awas aja sampe lo ga sukses, gue gamao
jadi temen lo lagi haha." balas Jani.
Akhirnya, mereka berdua menautkan jari mereka sebagai tanda janji. Untuk
saling memperbaiki diri untuk sebuah pembuktian bahwa janji harus ditepati.
-TAMAT-
PERJALANAN
Anjani Kinan Prananda atau yang biasa dipanggil Jani
merupakan gadis kelahiran Bandung. Ia adalah anak seorang TNI. Ibunya adalah
seorang ibu rumah tangga. Sebagai anak dari seorang TNI, Jani harus siap untuk
pindah-pindah sekolah. Saat ini, Jani harus pindah dari Lombok ke Bandung.
Karena kepindahannya ke Bandung, Jani sangat menyukainya. Karena di Bandung ia
mempunyai kenangan yang indah bersama kakeknya yang sudah meninggal.
Jani sekarang sudah menginjak sudah kelas 11 SMA. Dulunya
ia bersekolah di SMAN 5 Lombok. Namun, sekarang ia bersekolah di SMAN 15
Bandung. Pada saat hari pertama ia pindah sekolah di Bandung, ia bangun
kesiangan.
"Jani bangun sayang ini sudah jam berapa nanti kamu
bisa telat ke sekolah lho Jani." ucap ibu Jani.
"Iya mah sebentar lagi. Ini masih jam 04.30 mah Jani
masih ngantuk." ucap Jani.
"Sekarang sudah jam 05.50 sayang kamu bisa telat.
Nanti kalau kamu telat mamah ga tanggung jawab lho ya." ucap ibu Jani.
"Astaghfirullah mamah kenapa ga bangunin aku dari
tadi sih." ucap Jani.
Jani pun dengan langkah terburu-buru langsung lari ke
kamar mandi untuk mandi. Lalu setelah selesai mandi, Jani langsung pergi
kesekolah tanpa sarapan terlebih dahulu.
Pada saat sedang menunggu angkot dijalan, Jani sampai
mendumel sendiri karena angkotnya belum sampai.
"Ih mana sih angkotnya, ini udah jam berapa gue kan
bisa telat kalo angkotnya belum dateng-dateng." ucap Jani karena ia kesal
angkotnya belum datang-datang.
***
Setelah sampai di depan gerbang, Jani harus berlari
karena sebentar lagi gerbang akan ditutup. Jani akhirnya sampai di depan
gerbang yang nyaris tertutup, apabila ia tidak berlari dengan cepat.
Setelah itu Jani bingung karena ia belum tahu ia akan
masuk ke kelas mana. Tidak jauh dari tempat Jani berdiri, ada seseorang
perempuan yang melihat Jani kebingungan. Lalu perempuan itu bertanya kepada
Jani.
"Lo anak baru ya ? Kok gue gapernah liat muka lo sih
disekolah ini." tanya seorang perempuan yang Jani belum ketahui namanya
itu.
"Iya gue anak baru, bisa tunjukkin ke gue ga dimana ruang
guru ?" tanya Jani kepada seorang perempuan itu.
"Ayo sini gue tunjukkin dimana ruang guru. Btw, nama
gue Karina Dea Amalia. Lo bisa panggil gua Karin. Lo pindahan dari mana ya kalo
gue boleh tau ?" tanya Karin kepada Jani.
"Gue pindahan dari Lombok, tapi gue lahir di Bandung
Rin." ucap Jani ke Karin
"Oh gitu, yaudah kalo gitu gue anter lo ke ruang
guru. Yok Jan." ucap Karin.
Setelah sampai di ruang guru Jani bertanya kepada salah
seorang guru yang ada disana.
"Permisi bu, saya anak baru pindahan dari Lombok,
saya belum tau kelas saya dimana. Boleh ibu tunjukkin dimana kelas saya ?"
tanya Jani kepada guru tersebut.
"Oh mari ibu antar ke ruang tata usaha untuk
mengetahui kamu dikelas berapa. Saya Bu Aminah guru Biologi." ucap Bu
Aminah kepada Jani.
Setelah Jani mengetahui dia mendapat kelas berapa, akhirnya Jani mencari
kelasnya. Setelah menemukan kelasnya, Jani mengetuk pintu untuk bisa masuk
kedalam kelasnya.
"Permisi pak, saya izin masuk. Saya murid baru pindahan dari
Lombok." ucap Jani kepada guru laki-laki tersebut.
"Oh iya silahkan masuk. Sekalian kamu perkenalkan diri kamu kepada
teman-teman baru kamu." ucap guru laki-laki tersebut kepada Jani.
"Perkenalkan nama gue Anjani Kinan Prananda. Kalian bisa panggil gue
Jani. Gue pindahan dari Lombok. Salam kenal semua." ucap Jani sambil
memperkenalkan dirinya kepada teman-teman barunya.
Setelah memperkenalkan diri, Jani mencari bangku untuk ia duduki. Saat itu
bangku yang kosong hanya satu. Lalu Jani menuju bangku kosong tersebut dan
melihat orang itu ternyata Karin. Gadis yang ia temui pagi tadi saat sedang
mencari ruang guru.
Lalu Jani bertanya kepada Karin. "Rin, gue boleh kan duduk disamping
lo ?"
"Sini-sini boleh kok Jan, malah dengan senang hati
gue duduk sama lo." ucap Karin kepada Jani.
"Btw, lo udah tau mata pelajaran hari ini belum Jan
?" tanya Karin kepada Jani.
"Gue belum tau sih pelajaran hari ini apa aja. Tapi
gue udah bawa buku tulis kosong yang lumayan banyak kok." jawab Jani
kepada Karin.
"Oh yaudah kalo gitu bagus." jawab Karin.
***
Jani belum tau dia akan ikut ekstrakulikuler apa karena
pada sekolah sebelumnya Jani tidak mengikuti ekskul karena disana ekskul itu
tidak wajib. Lalu Jani bertanya kepada Karin disekolah ini ada ekskul apa aja.
"Rin, emang disekolah ini ekskul itu wajib ya ?
Soalnya disekolah gue dulu ekskul itu ga wajib." tanya Jani kepada Karin.
"Iya Jan, kalo disini ekskul itu wajib. Soalnya kalo
ga ekskul nanti bisa ga naik kelas. Emang ada apa Jan lo nanya kayak begitu
?" jawab Karin.
"Sebenernya gue itu masih bingung mau ikut ekskul
apa soalnya disekolah gue dulu ekskul itu ga wajib." ucap Jani.
"Oh kalo begitu lo ikut ekskul yang menarik
perhatian lo aja Jan." ucap Karin.
"Gue ada kepikiran buat ikut ekskul lukis sih.
Soalnya gue mau melatih bakat ngelukis gue." jawab Jani.
"Wih bagus tuh ekskul lukis. Tadinya gue berminat
tapi karena gue gabisa ngelukis jadi ya gajadi deh gue ikut." Ucap Karin.
"Emang lo ikut ekskul apa Rin ?" tanya Jani
kepada Karin.
"Gue ikut ekskul bultang Jan." jawab Karin.
"Wih mantep tuh lo ikut bultang." jawab Jani.
***
Pada saat jam ekskul, Jani bingung harus pergi keruangan
mana karena dia belum tau ruangan lukis. Lalu tidak jauh dari tempat Jani
berdiri, ada seorang laki-laki yang tidak Jani ketahui. Lalu Jani berinisiatif
untuk bertanya kepada laki-laki tersebut.
"Hei lo tau ga dimana ruangan ekskul lukis ?"
tanya Jani kepada cowok tersebut.
"Gue tau ruangan lukis. Tapi emang ada perlu apa lo
sama lukis ?" tanya cowok yang belum diketahui namanya itu.
"Gua anak baru ekskul lukis jadi gua belum tau
dimana ruangan ekskul lukis. Bisa lu tunjukkin ga dimana ekskul lukis ?"
ucap Jani kepada cowok tersebut.
"Yaudah ayo gua anter lu ke ruangan ekskul
lukis." jawab cowok tersebut.
***
Jani mengikuti ekskul lukis dengan semangat dan senang.
Dia pun menyukainya karena lukis bisa mengekspresikan apa yang sedang kita
rasakan. Saat ekskul Jani sempat izin kepada pelatih ekskul untuk ke kamar
mandi. Saat sedang menuju kamar mandi, Jani sudah tidak bisa menahan karena ia
sudah menahan untuk ke kamar mandi sejak lama.
Akhirnya Jani terpaksa harus berlari supaya bisa cepat
sampai ke kamar mandi. Namun, saat menuju ke kamar mandi ia sempat menabrak
seorang cowok. Tapi, Jani tidak menghiraukannya karena yang ada dipikirannya
saat ini hanya cepat sampai ke kamar mandi.
"Woy, lo kalo jalan liat-liat kek jangan jalan
seenaknya dipikir ini jalan punya nenek moyang lo apa." ucap cowok itu
dengan kesal.
"Buset bener-bener ni orang gua ngomong dikacangin.
Awas aja lo kalo ketemu lagi sama gue." ucap cowok tersebut.
***
Keesokannya saat Jani dan Karin menuju ke kantin, ada
seorang cowok yang dengan sengaja menabrak Jani dengan kencang sampai Jani
hampir terjatuh. Lalu Jani marah kepada cowok tersebut.
"Eh lo kalo jalan liat-liat dong jangan
seenaknya." ucap Jani dengan kesal.
"Maaf ya gue nabrak lo. Tapi gua mau minta maaf lagi
nih soalnya gua nabrak lu sengaja." ucap cowok tersebut dengan nada
mengejek.
"Kenapa lo sengaja nabrak gua. Padahal kan gua gaada
salah apa-apa sama lo." jawab jani.
"Lo ga sengaja nabrak gue ? Heiii lo itu pernah
nabrak gue waktu itu. Udah gitu lo ga minta maaf lagi malah langsung
pergi." ucap si cowok
"Kapan gue pernah nabrak lo. Gue gapernah ngerasa
nabrak lo." jawab Jani dengan penuh kesal.
"Waktu itu lo pernah nabrak gue pas mau ke arah
kamar mandi." ucap si cowok.
"Yaudah kalo begitu gue minta maaf karna ga sengaja
nabrak lo." jawab Jani.
"Kalo begitu gue gamao maafin lo." jawab si
cowok.
"Awas lo ya." jawab Jani.
***
Jani langsung menarik Karin untuk langsung masuk ke
kantin dan meninggalkan si cowok yang belumia ketahui namanya itu. Karin yang
menyaksikan perdebatan tadi hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Jan, lo tau ga yang tadi ribut sama lo itu siapa
?" tanya Karin kepada Jani.
"Emang siapa Rin cowok yang tadi ?" tanyab Jani
kepada Karin.
"Cowok yang abis ribut sama lo itu Jipal." ucap
Karin.
"Jipal ? Siapa Jipal ?" jawab Jani.
"Dia itu Jipal, anak ekskul lukis yang terkenal satu
sekolah karena lukisannya yang bagus itu." jawab Karin.
"Hah lo serius dia anak ekskul lukis ?" tanya
Jani.
"Iya Jan. Masa lo gatau sih kalo dia satu ekskul
sama lo." ucap Karin.
"Tapi serius Rin gue gatau kalo dia itu anak ekskul
lukis." jawab Jani.
"Yaudah lah Jan. Tapi lo harus hati-hati soalnya gue
pernah denger dia itu jarang ngobrol sama cewek apalagi sampe kesel kayak
tadi." ucap Karin.
"Emang kenapa Rin dia gapernah ngobrol sama cewek
sampe gitu ?" tanya Jani kepada Karin.
"Gue juga gatau sih kenapa nya sampe dia bisa sampe
kayak begitu." jawab Karin.
"Yaudah lah lagi pula gue udah gaada urusan sama dia
Rin." jawab Jani.
Cowok yang tadi sempet debat sama Jani itu adalah Zikri
Naufal. Zikri Naufal atau yang biasa dipanggil Jipal. Jipal itu panggilan untuk
Zikri Naufal dari teman-temannya. Jipal dikenal sebagai cowok yang irit
ngomong, gapernah keliatan deket sama cewek. Sekalinya ngobrol sama cewek hanya
sepatah dua kata aja ga sampe panjang.
***
suatu hari Jipal dipanggil ke ruang guru oleh wali
kelasnya.
"Jipal lu dipanggil sama Bu Mery disuruh ke ruang
guru." ucap salah seorang teman Jipal.
Saat menuju ke ruang guru Jipal berfikir apa alasan ia
dipanggil ke ruang guru. Padahal ia tidak membuat kesalahan yang fatal
akhir-akhir ini. Namun, saat hampir sampai ke ruang guru Jipal melihat
perempuan yang ia ketahui namanya itu Jani. Iya, dia adalah Jani. Perempuan
yang beberapa bulan akhir ini menjadi teman ributnya.
"Loh Jani ngapain ke ruang guru ?" pikir Jipal
dalam hati.
"Tuh cowok mau ngapain sih ke ruang guru juga
?" pikir Jani dalam hati.
Akhirnya mereka masuk ke ruang guru dan menuju ke meja
yang sama, yaitu meja Bu Mery. Lalu Bu Mery memberitahu bahwa akan ada lomba
lukisan se-Bandung yang akan diadakan di Alun-Alun Kota Bandung.
"Kalian Ibu panggil kesini karena Ibu mau bilang ke
kalian kalo akan diadakan lomba lukisan se-Bandung. Ibu mau kalian berdua ikut
lomba lukisan itu ya." ucap Bu Mery kepada Jani dan Jipal.
"Saya sama dia untuk lomba lukis bu ?" tanya
Jipal kepada Bu Mery.
"Iya Jipal, kamu sama Jani ibu tugaskan untuk lomba
melukis se-Bandung." jawab Bu Mery.
"Tapi saya gamau ikut lomba lukis itu bu." ucap
Jani kepada Bu Mery.
"Kenapa kamu tidak mau ikut lomba lukis Jani ?"
tanya Bu Mery kepada Jani.
"Saya rasa lukisan saya masih biasa-biasa aja bu.
Masih banyak siswa lain yang lukisannya lebih bagus dari pada saya." jawab
Jani kepada Bu Mery.
"Tapi ibu maunya kamu sama Jipal yang ikut lomba
lukisnya Jan." ucap Bu Mery kepada Jani.
"Yaudah kalau begitu saya ikut lombanya deh
bu." jawab Jani untuk mengiyakan perintah Bu Mery.
"Bagus kalau begitu Jan. Kamu harus ikut ya Pal,
karena ibu ga terima penolakan." ucap Bu Mery.
"Iya Bu, saya akan ikut lomba lukis itu." jawab
Jipal kepada Bu Mery.
***
Sebenernya Jani masih bingung apakah dia akan ikut lomba yang disuruh sama
Bu Mery apa tidak. Karena ia bingung, akhirnya iya menanyakan hal tersebut
kepada Karin. Ia ingin menanyakan pendapat Karin apakah Jani harus mengikuti
lomba tersebut apa tidak.
'Kariiinnnn, gue mau nanya pendapat ke lo soalnya gue lagi bingung ini.'
tanya Jani kepada Karin melalui chatting.
Tidak lama Karin pun membalas....
'Lo mau nanya pendapat apa Jan ke gue ?" tanya Karin kepada Jani.
'Jadi gua kan disuruh ikut sama Bu Mery lomba lukis. Tapi gue bingung ikut
apa ga ya ?" tanya Jani kepada Karin.
'Saran gue sih mending lo ikut aja kan lumayan buat nambah-nambah
pengalaman lo Jan." jawab Karin kepada Jani.
'Tapi masalahnya gue dipasangin sama si Jipal Rin buat ikut lomba nya.'
ucap Jani.
'Anjir, lo beneran sama si Jipal disuruh ikut lomba lukis ?" tanya
Karin karena ia masih tidak percaya atas apa yang Jani ucapkan.
'Menurut lo gue bohong gitu.' jawab Jani dengan kesal karena Karin tidak
percaya kepadanya.
'Ya maap Jan, abis gue masih ga nyangka anjir kalo lo dipasangin sama si
Jipal buat lomba.' jawab Karin karena masih tidak percaya dengan apa yang Jani
ucapkan.
'Jadi gimana nih, gue lombanya apa ga ?" tanya Jani untuk memastikan
jawabannya kepada Karin.
'Ya menurut gue sih mending lo ikut aja. Itung-itung sekalian lu bisa
nanya-nanya sesuatu ke si Jipal.' jawab Karin.
'Dih mau nanya apaan gue ke dia. Lagipula kan gue gaada urusan apa-apa sama
dia Rin.' timbal Jani dengan kesal.
'Yaudah iya maaf. Yaudah mending lo siapin diri lo aja buat lomba itu.'
jawab Karin.
'Udah ah gue mau tidur ini udah malem soalnya. Waktunya gue buat tidur. Bye
Jani.' ucap Jani kepada Karin sambil mengakhiri chattingannya.
'Yaudah deh makasih Karin. Bye.' jawab Jani sambil mengakhiri chattingannya
dengan Karin.
***
***
Saat hari
perlombaan berlangsung.....
Saat hendak
pergi ke sekolah untuk berangkat bersama menuju tempat perlombaan, Jani masih
bingung apakah dia akan mengikuti lomba tersebut apa tidak. Jani sebenarnya mau
ikut lomba itu, tetapi masalahnya itu partner dia untuk lomba itu adalah Jipal.
Sebenernya antara Jani dan Jipal tidak ada apa-apa tapi entah kenapa Jani
merasa sebal saja kepada Jipal walaupun tidak ada masalah apapun.
Akhirnya
Jani memutuskan untuk mengikuti lomba tersebut. Karena ia ingin mendapatkan
pengalaman. Walaupun sebenernya ia merasa kurang sreg sama si
Jipal.
Sebenarnya
dalam benak Jipal ia bingung saat diberitahu bahwa ia akan diikuti lomba oleh
Bu Mery. Apalagi ia akan dipasangkan dengan Anjani Kinan Prananda atau yang
biasa dipanggil Jani. Ia bingung harus merasa senang atau kesal, karena ia
belum tau sebenarnya perasaannya ke Jani itu seperti apa.
'Sebenernya
gue ini kenapa sih. Kenapa gue kepikiran terus ama si Jani.' pikir Jipal dalam
hati.
'Plis lah
hati gue kenapa bisa kayak begini Tuhan.'
'Gue mau
fokus dulu sama lomba lukis ini. Jadi plis lah jangan mikir yang aneh-aneh
dulu.' pinta Jipal agar ia bisa lebih fokus terhadap lomba.
***
Saat
perlombaan berlangsung, karena Jani dan Jipal mewakili sekolah mereka, mereka
duduk bersebelahan. Pada saat perlombaan berlangsung, kuas Jani terjatuh ke
lantai. Jipal berniat mengambil kuas Jani, tetapi Jipal tidak sengaja menginjak
kuas kesayangan Jani. Kuas tersebut akhirnya patah. Jani yang melihat kuas
kesayangannya patah, ia langsung marah kepada Jipal.
"YA
AMPUN LO ITU NIAT GA SIH BUAT NOLONGIN GUE ?" tanya Jani kepada Jipal
dengan penuh amarah.
"Eh
maaf Jan gue ga sengaja bikin kuas lo jadi patah." jawab Jipal dengan
merasa bersalah.
"TERUS
KALO KUAS GUE PATAH, GIMANA GUE MAU NGELANJUTIN LUKISAN INI. APALAGI WAKTUNYA
SEBENTAR LAGI." ucap Jani.
Karena Jipal
dan Jani bertengkar akhirnya juri-juri pun menghampiri mereka berdua untuk
mengetahui apa yang terjadi dengan mereka.
"Ada
apa ini kok malah terjadi keributan ?" tanya juri penasaran.
"Ini
pak, bu kuas saya tadi jatuh terus tidak sengaja cowok ini mematahkannya. Lalu
saya bingung bagaimana cara melanjutkan lukisannya." jawab Jani.
"Bukannya
kalian ini satu sekolah ? Lantas mengapa kalian malah bertengkar ?" tanya
sang juri.
"Iya
pak, bu maaf saya membawa kuas cadangan jadi kami masih bisa untuk melanjutkan
perlombaan ini." ucap Jipal.
Setelah
Jipal berbicara seperti itu, akhirnya juri tersebut pun meninggalkan mereka
berdua. Dan Jani pun meredam emosinya untuk sementara waktu. Lalu dengan kuas
cadangan tersebut Jani melanjutkan lukisannya.
***
***
Akhirnya,
tibalah dihari yang paling ditunggu-tunggu dan juga membuat penasaran banyak
siswa. Yap, hari itu adalah Hari pengumuman lomba.
Setelah
perlombaan selesai, juri menilai lukisan dari setiap siswa-siswi yang mewakili
sekolah mereka. Saat diumumkan ternyata Jipal mendapat Juara 2 dan Jani tidak
mendapatkan Juara. Akhirnya Jani kesal kepada Jipal karena akibat ulahnya
mematahkan kuasnya sehingga ia jadi tidak mendapatkan Juara. Karena kejadian
tersebut Jani menjadi benci terhadap Jipal.
'Kalo aja si
Jipal ga bikin ulah pasti gua bisa dapet juara.' pikir Jani di dalam hatinya.
Sejak
pengumuman lomba kemarin, Jani menjadi benci terhadap Jipal. Dan disekolahpun
apabila ia tidak sengaja melihat Jipal atau berpapasan dengan Jipal ia akan berusaha
menghindar, karena dengan melihat muka Jipal akan membuat emosi Jani menjadi
meningkat.
***
Jipal mulai
menyadari bahwa Jani sikapnya menjadi aneh. Namun, Jipal sendiri belum
mengetahui penyebab pasti mengapa Jani menjadi seperti itu. Karena perubahan
sikap Jani yang drastis, Jipal mulai menyadari bahwa ada perasaan di dalam
dirinya yang merasakan kehilangan sesuatu. Tetapi, Jipal masih belum
memberitahu perasaan itu kepada siapa-siapa. Jadi, ia hanya menyimpan perasaan
itu di dalam dirinya saja.
Tetapi,
Jipal merasa perasaan itu hanyalah sementara. Ia berfikir perasaan itu akan
hilang dalam sesaat.
Beberapa
bulan kemudian....
Setelah
waktu beberapa bulan kemarin, Jipal masih kepikiran atas perubahan sikap Jani
kepadanya. Apakah ia harus menanyai kepada Jani atau tidak. Akhirnya, setelah
Jipal memikirkan untuk menanyai tentang ada yang mengganjal dihatinya, ia pun
memberanikan diri untuk menanyakan ke Jani atas perubahan sikapnya selama
beberapa bulan belakangan ini.
'Apa gue
harus nanyain ke Jani yaa, sebenernya dia ada masalah apa sama gue ya ?' pikir
Jipal dalam hati.
'Tapi, kalo
nanti pas gue tanya ke dia dia malah mikir yang aneh-aneh gimana'
'Huaaaaaaa,
Tuhan gue harus gimana sekarang ?' tanya Jipal kepada dirinya sendiri.
'Tapi kalo
gue ga nanya yang ada gue malah kepikiran terus.'
'Daripada
gue kepikiran terus, mending gue tanyain aja deh ke dia besok.'
Keesokan
harinya, saat sudah berada disekolah, Jipal segera mencari Jani untuk
menanyakan atas perubahan sikap Jani beberapa bulan kebelakang ini. Namun, saat
Jipal mencari-cari Jani ke penjuru sekolah, ia tidak menemukannya. Akhirnya,
Jipal memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan Jani kepada Karin.
"Rin,
lo tau ga Jani dimana, soalnya gua udah nyariin dia kemana-mana tapi ga
ketemu." tanya Jipal kepada Karin.
"Emang
ada perlu apa lo nyari si Jani ?" tanya Karin kepada Jipal.
"Ada
hal penting yang mau gue tanyain sama dia. Jadi, lo tau ga dimana dia ?"
tanya Jipal sekali lagi.
"Biasanya
sih kalo jam segini dia suka ke perpus." jawab Karin.
"Oke
oke, kalo gitu makasih ya Rin." ucap Jipal.
***
Setelah
mengetahui keberadaan Jani, Jipal tanpa pikir panjang langsung menghampiri Jani
di perpustakaan. Dan betul saja, saat Jipal sudah sampai di perpustakaan, ia
dengan mudah menemukan seseorang yang sedang ia cari. Dan orang itu adalah
Jani.
Saat itu
juga Jipal langsung menghampiri Jani untuk menanyakan perihal atas perubahan
sikap Jani.
"Jani,
gue mau tanya sesuatu ke lo. Gue mohon lu jangan menghindar dari gue."
ucap Jipal.
"Lo mau
nanya apa ke gue ? Gue gapunya banyak waktu, jadi kalo lo mau tanya sesuatu
mending lo tanya sekarang." ucap Jani.
"Kenapa
lo beberapa bulan belakangan ini gue liat lo ngehindar dari gue ?" tanya
Jipal.
"Gue ga
ngehindar dari lo. Lonya aja kali yang merasa kalo gue ngehindar dari lo."
jawab Jani.
"Tapi
gue ngerasa kalo lo itu ngehindar dari gue. Dan gue ngerasa kalo lo ngehindarin
gue itu pas abis lomba." ucap Jipal.
"Oh iya
gue ngehindarin lo itu karna gue kesel sama lo, gue benci sama lo." jawab
Jani.
"Kenapa
lo kesel, benci sama gue. Emang gue ada salah apa sama lo sampe-sampe lo kesel
ama gue." tanya Jipal.
"Gue
kesel sama lo karena lo udah matahin kuas kesayangan gue. Lo tau kenapa kuas
itu menjadi kuas kesayangan gue ?" ucap Jani dengan penuh emosi.
"Emang
kenapa kuas itu jadi kuas kesayangan lo ? Kayaknya gue liat-liat kuas itu
biasa-biasa aja." tanya Jipal.
"Kuas
itu pemberian terakhir dari almarhum kakek gue makanya itu kuas jadi kuas
kesayangan gue dan lo dengan seenaknya matahin kuas itu !!!!" jawab Jani.
"Kalo
untuk itu gue minta maaf ke lo. Tapi beneran gue ga bermaksud buat matahin kuas
lo, apalagi itu kuas kesayangan lo." ucap Jipal dengan penuh penyesalan.
"Gue
udah maafin lo untuk soal itu, tapi maaf gua masih kesel dan benci sama lo. Dan
permisi, gue harus pergi sekarang." jawab Jani.
"Lo
boleh kesel sama gue, lo boleh benci sama gue. Tapi gue mohon lo jangan jauhin
gua, jangan hindarin gue." pinta Jipal.
"Apa
hak lo larang-larang gue buat jauhin lo ? Emang lo siapa gue, sampe gue harus
nurutin mau lo." tanya Jani.
"Gue
sayang sama lo Jan, gue gabisa nahan lagi buat ga ngomong ini sama lo."
jawab Jipal.
"Lo
sayang sama gue ? Tapi kenapa ?" tanya Jani.
"Gue
gatau sejak kapan perasaan gue ini muncul, tapi semenjak lo ngindarin gue, gue
merasa kehilangan lo Jan." jawab Jipal.
"Jadi
gue mohon lu jangan jauhin gue." pinta Jipal.
"Gue
harus pergi sekarang." ucap Jani.
***
Setelah
kejadian di perpustakaan, Jani menjadi semakin menghindar dari Jipal. Ia merasa
belum siap untuk bertemu dengan Jipal. Hari berganti hari, Jani pun masih
menghindari Jipal. Namun, Jipal sendiri masih berusaha untuk mendekati dan
membuat Jani tidak kesal dan benci kepadanya lagi.
Jipal merasa
lama-kelamaan sikap Jani tak kunjung membaik, yang ada Jani makin menjauhinya
sejak kejadian di perpustakaan.
Beberapa
bulan kemudian.......
Sebentar
lagi Jipal dan Jani akan memasuki kelas 12. Pada saat itu juga, Jipal dan Jani
masih belum bisa membaik. Namun, Jipal masih belum bisa berhenti untuk
meluluhkan hati Jani.
Setelah
kenaikan kelas, akhirnya Jani tersadar bahwa selama ini ia sudah bersikap tidak
baik terhadap Jipal. Akhirnya, ia memutuskan untuk bisa bersikap baik kepada
Jipal. Lalu, ia meminta saran kepada Karin apa yang bisa ia lakukan untuk
meminta maaf dan bersikap baik kepada Jipal. Jani pun langsung menghubungi
Karin lewat telefon.
'Rin, gue
mau nanya sesuatu ke lo.' tanya Jani kepada Karin.
'Lo mau
nanya apa Jan ke gue ?' jawab Karin.
'Menurut lo,
apa selama ini sikap gua ke Jipal itu jahat ga sih ?' tanya Jani kepada Karin.
'Menurut gue
sih ya Jan, sikap lo ke Jipal itu udah kelewat bates, sebenernya itu lo sama
dia ada masalah apa sih sampe lo ngindarin dia berbulan-bulan ?' tanya Karin.
'Gue sama
dia adalah masalah tapi gue gabisa cerita ke lo tentang masalah gue itu.' jawab
Jani.
'Yaudah kalo
lo gamau cerita ke gue gapapa. Tapi gue minta ke lo, lo ubah sikap lo yang
menurut gue masih kayak anak kecil.' ucap Karin.
'Iya Rin,
sekarang gue mau kok ubah sikap gue ke dia. Tapi sebenernya gue mau ngasih tau
lo suatu hal yang berkaitan sama si Jipal.' ucap Jani.
'Lo mau
ngasih tau apa emang Jan ?' tanya Karin.
'Sebenernya
Jipal itu udah pernah bilang ke gue kalo dia itu sayang sama gue. Tapi gue
masih bingung sama perasaan gue sendiri ke dia itu gimana.' ucap Jani.
'Hah lo
serius kalo si Jipal udah bilang itu ke lo ?' tanya Karin karena tidak percaya.
'Iya gue
serius Rin, dia sendiri yang bilang ke gue.' jawab Jani.
'Saran gua
mending lo ikutin aja apa kata hati lo. Karena itu bakal jadi jawaban yang
terbaik untuk lo kedepannya.' saran Karin.
'Oke kalo
gitu. Makasih Karin byeee.' ucap Jani sambil menutup telfonnya.
***
Sejak saat
itu, Jani sudah mulai bersikap baik dan juga sudah mulai membuka hatinya untuk
Jipal. Lalu ia berusaha mencari Jipal untuk meminta maaf kepada Jipal atas
sikapnya yang tidak baik selama ini. Akhirnya, ia pun menemukan Jipal sedang
duduk di bawah pohon. Tidak lama setelah ia melihat Jipal, Jani langsung
menghampiri Jipal.
"Hai
Jipal, lama kita ga ketemu." ucap Jani dengan tersenyum kaku.
"Hai
juga Jani. Ada perlu apa lo samperin gue ?" tanya Jipal tanpa basa-basi.
"Sebenernya
ada yang mau gue omongin sama lo." ucap Jani.
"Lo mau
ngomong apa sama gue ?" tanya Jipal.
"Sebenernya
gue mau minta maaf atas sikap gue selama ini yang ga baik sama lo." jawab
Jani.
"Gue
udah maafin lo dari lama kok. Lagipula, kan lo bersikap kayak gitu juga karna
salah gue juga jadi wajar kalo lo bersikap kayak kemaren." ucap Jipal.
"Makasih
Pal lo udah maafin gue." jawab Jani.
"Iya
sama-sama Jan." jawab Jipal.
"Oiya
sebenernya ada yang mau gue kasih tau ke lo." ucap Jani.
"Lo mau
ngasih tau apa Jan ?" tanya Jipal.
"Gue
udah mau buka hati buat lo Pal." jawab Jani.
"Hah lo
serius Jan mau buka hati lo buat gue ?" tanya Jipal untuk memastikan.
"Iya
gue serius Jipal." jawab Jani.
"Makasih
ya Jan lo udah mau buka hati lo buat gue." ucap Jipal.
"Iya
sama-sama Pal. Gue makasih sama lo karna lo udah sabar sama gue selama
ini." ucap Jani.
"Iya
sama-sama juga Jan." jawab Jipal.
***
Setelah
kejadian tersebut, akhirnya hubungan Jani dan Jipal menjadi membaik. Mereka pun
berhubungan selayaknya remaja pada umumnya. Tetapi, baik Jani maupun Jipal
tidak ada yang membahas tentang status hubungan mereka. Karena menurut mereka,
selagi tidak ada yang merasa rugi karena memiliki hubungan tanpa status atau
yang biasa disebut friendzone mereka baik-baik saja.
***
***
Beberapa bulan kemudian......
Hubungan Jani dan Jipal sampat saat ini masih berjalan dengan baik. Namun,
saat menjelang Ujian Nasional hubungan Jani dan Jipal menjadi sedikit renggang.
Entah apa yang menjadi penyebab renggangnya hubungan Jani dan Jipal. Suatu
ketika, Jipal merasa ada yang aneh dengan sikap Jani belakangan ini. Akhirnya,
Jipal pun memberanikan diri untuk menanyakan langsung kepada Jani agar ia tidak
penasaran karena hubungannya dengan Jani semakin menjauh.
Namun, berkali-kali Jipal ingin mendekati Jani, ia seolah-olah menghindar
dan pergi dari hadapan Jipal. Hal tersebut semakin membuat Jipal yakin bahwa
ada sesuatu yang disembunyikan Jani.
Hingga suatu ketika, Jipal diam-diam mengikuti perginya Jani, ternyata Jani
masuk ke perpustakaan. Akhirnya Jipal ikut masuk dan bersembunyi di dalam
perpustakaan. Saat waktu dirasa pas, Jipal menghampiri Jani secara diam-diam
dan dari belakang agar Jani tidak melihatnya.
Akhirnya Jipal berhasil duduk di sebelah Jani, Janipun segera bangkit,
belum sempat pergi tangannya sudah dicekal oleh Jipal. Akhirnya secara terpaksa
mereka berdua memulai obrolan.
"Jan, lo kenapa sih, akhir-akhir ini lo menjauh dari gue, tiap ketemu
gue jangankan ketemu, liat gue aja lo langsung pergi. Sebenernya ada apa sih,
cerita dong sama gue." Jipal yang memulai obrolan
"Gk, itu cuma perasaan lo aja kali, gue biasa aja tuh" Jani
berusaha mengelak
"Apa iya cuma perasaan gue aja, ahh tapi enggak deh, gue ngerasa dia
emg ngejauhin gue" Jipal berperang dalam batinnya.
"Udah gk ada lagi kan? Udah ya gue mau pergi dulu mau belajar,
bayy." Jani tergesa-gesa keluar dari perpus.
"Eh tunggu dulu, yah udah pergi duluan, kenapa si sebenernya ?"
Jipal frustasi karena tidak mendapat jawaban yang jelas dari Jani.
Hingga tidak terasa, UNpun selesai. Setelah insiden obrolan di perpus,
Jipal dan Jani sudah tidak terlibat obrolan dan tidak pernah saling bertemu,
walaupun mereka satu sekolah. Hubungan mereka pun dirasa sudah sangat renggang.
Karena tidak sabar dan merasa penasaran bagaimana kelanjutan hubungan mereka,
Jipal pun mulai mencari kembali keberadaan Jani. Ia menemukan Jani di taman
belakang sekolah yang sepi sehingga ia bisa dengan leluasa mengobrol dengan
Jani.
"Hai Jan, lama yaa kita gak kaya gini lagi, ngobrol bareng, nongki
bareng, main bareng, padahal kita satu sekolah, kangenn deh masa-masa itu
lagi." Jipal bercerita sambil matanya menerawang ke depan memutar kembali
kenangan dulu
Jani pun terdiam cukup lama, sambil memikirkan jawaban apa yang akan
diberikan untuk Jipal. Akhirnya, tidak lama setelah itu Jani pun angkat bicara.
Berusaha memberikan penjelasan yang selama ini ingin ia jelaskan kepada Jipal.
"Pal, sebelumnya gue minta maaf yaa atas sikap gue kemarin pas di
perpus, gue cuek banget sama lo, bahkan langsung tiba-tiba pergi. Terus juga,
sebenernya, ada yang mau gue omongin ama lo Pal." ucap Jani kepada Jipal.
"Lo mau ngomong apa Jan ? Kalo lo mau ngomong, ngomong aja kali gausa
canggung kek gini. Kek ama siapa ae anjir lu." balas Jipal.
"Jipal, kayaknya kita sampe disini aja ya. Soalnya, gue udah gabisa
sama lo lagi. Gue harap, setelah ini lo bakal bahagia ya Pal." ucap Jani
kepada Jipal.
"Mmaksud lo apa Jan ngomong kayak begitu ? Gue ga ngerti lo ngomong
apa Jan." Tanya Jipal kepada Jani karena ia tidak mengerti apa yang
dibicarakan Jani.
"Gue maunya kita cukup jadi teman aja. Karena, untuk saat ini gue mau
lanjutin pendidikan gue dulu. Maaf ya pal, dan terimakasih untuk semua
kenangannya, gue seneng bisa punya kenangan indah sama lo." Ucap Jani
kepada Jipal.
Jipal sempat merasa kaget, namun dia mencoba bersikap biasa saja, walaupun
dalam hatinya sangat merasa sedih.
"Oh oke, klo emang ini yang lo mau, gue turutin kok, semangatt
menempuh pendidikan yang lebih tinggi yaa, janji sama gue lo harus sukses. Kalo
lo ga sukses gue akan marah sama lo." Ucap Jipal dengan lapang dada
menerima kenyataan ini.
"Lo juga pal, harus sukses. Awas aja sampe lo ga sukses, gue gamao
jadi temen lo lagi haha." balas Jani.
Akhirnya, mereka berdua menautkan jari mereka sebagai tanda janji. Untuk
saling memperbaiki diri untuk sebuah pembuktian bahwa janji harus ditepati.
-TAMAT-
Komentar
Posting Komentar