Tugas Cerpen Ilmu Budaya Dasar

 

PERJALANAN

Anjani Kinan Prananda atau yang biasa dipanggil Jani merupakan gadis kelahiran Bandung. Ia adalah anak seorang TNI. Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Sebagai anak dari seorang TNI, Jani harus siap untuk pindah-pindah sekolah. Saat ini, Jani harus pindah dari Lombok ke Bandung. Karena kepindahannya ke Bandung, Jani sangat menyukainya. Karena di Bandung ia mempunyai kenangan yang indah bersama kakeknya yang sudah meninggal.

Jani sekarang sudah menginjak sudah kelas 11 SMA. Dulunya ia bersekolah di SMAN 5 Lombok. Namun, sekarang ia bersekolah di SMAN 15 Bandung. Pada saat hari pertama ia pindah sekolah di Bandung, ia bangun kesiangan.

"Jani bangun sayang ini sudah jam berapa nanti kamu bisa telat ke sekolah lho Jani." ucap ibu Jani.

"Iya mah sebentar lagi. Ini masih jam 04.30 mah Jani masih ngantuk." ucap Jani.

"Sekarang sudah jam 05.50 sayang kamu bisa telat. Nanti kalau kamu telat mamah ga tanggung jawab lho ya." ucap ibu Jani.

"Astaghfirullah mamah kenapa ga bangunin aku dari tadi sih." ucap Jani.

Jani pun dengan langkah terburu-buru langsung lari ke kamar mandi untuk mandi. Lalu setelah selesai mandi, Jani langsung pergi kesekolah tanpa sarapan terlebih dahulu.

Pada saat sedang menunggu angkot dijalan, Jani sampai mendumel sendiri karena angkotnya belum sampai.

"Ih mana sih angkotnya, ini udah jam berapa gue kan bisa telat kalo angkotnya belum dateng-dateng." ucap Jani karena ia kesal angkotnya belum datang-datang.

***

Setelah sampai di depan gerbang, Jani harus berlari karena sebentar lagi gerbang akan ditutup. Jani akhirnya sampai di depan gerbang yang nyaris tertutup, apabila ia tidak berlari dengan cepat.

Setelah itu Jani bingung karena ia belum tahu ia akan masuk ke kelas mana. Tidak jauh dari tempat Jani berdiri, ada seseorang perempuan yang melihat Jani kebingungan. Lalu perempuan itu bertanya kepada Jani.

"Lo anak baru ya ? Kok gue gapernah liat muka lo sih disekolah ini." tanya seorang perempuan yang Jani belum ketahui namanya itu.

"Iya gue anak baru, bisa tunjukkin ke gue ga dimana ruang guru ?" tanya Jani kepada seorang perempuan itu.

"Ayo sini gue tunjukkin dimana ruang guru. Btw, nama gue Karina Dea Amalia. Lo bisa panggil gua Karin. Lo pindahan dari mana ya kalo gue boleh tau ?" tanya Karin kepada Jani.

"Gue pindahan dari Lombok, tapi gue lahir di Bandung Rin." ucap Jani ke Karin

"Oh gitu, yaudah kalo gitu gue anter lo ke ruang guru. Yok Jan." ucap Karin.

Setelah sampai di ruang guru Jani bertanya kepada salah seorang guru yang ada disana.

"Permisi bu, saya anak baru pindahan dari Lombok, saya belum tau kelas saya dimana. Boleh ibu tunjukkin dimana kelas saya ?" tanya Jani kepada guru tersebut.

"Oh mari ibu antar ke ruang tata usaha untuk mengetahui kamu dikelas berapa. Saya Bu Aminah guru Biologi." ucap Bu Aminah kepada Jani.

Setelah Jani mengetahui dia mendapat kelas berapa, akhirnya Jani mencari kelasnya. Setelah menemukan kelasnya, Jani mengetuk pintu untuk bisa masuk kedalam kelasnya.

"Permisi pak, saya izin masuk. Saya murid baru pindahan dari Lombok." ucap Jani kepada guru laki-laki tersebut.

"Oh iya silahkan masuk. Sekalian kamu perkenalkan diri kamu kepada teman-teman baru kamu." ucap guru laki-laki tersebut kepada Jani.

"Perkenalkan nama gue Anjani Kinan Prananda. Kalian bisa panggil gue Jani. Gue pindahan dari Lombok. Salam kenal semua." ucap Jani sambil memperkenalkan dirinya kepada teman-teman barunya.

Setelah memperkenalkan diri, Jani mencari bangku untuk ia duduki. Saat itu bangku yang kosong hanya satu. Lalu Jani menuju bangku kosong tersebut dan melihat orang itu ternyata Karin. Gadis yang ia temui pagi tadi saat sedang mencari ruang guru.

Lalu Jani bertanya kepada Karin. "Rin, gue boleh kan duduk disamping lo ?"

"Sini-sini boleh kok Jan, malah dengan senang hati gue duduk sama lo." ucap Karin kepada Jani.

"Btw, lo udah tau mata pelajaran hari ini belum Jan ?" tanya Karin kepada Jani.

"Gue belum tau sih pelajaran hari ini apa aja. Tapi gue udah bawa buku tulis kosong yang lumayan banyak kok." jawab Jani kepada Karin.

"Oh yaudah kalo gitu bagus." jawab Karin.

***

Jani belum tau dia akan ikut ekstrakulikuler apa karena pada sekolah sebelumnya Jani tidak mengikuti ekskul karena disana ekskul itu tidak wajib. Lalu Jani bertanya kepada Karin disekolah ini ada ekskul apa aja.

"Rin, emang disekolah ini ekskul itu wajib ya ? Soalnya disekolah gue dulu ekskul itu ga wajib." tanya Jani kepada Karin.

"Iya Jan, kalo disini ekskul itu wajib. Soalnya kalo ga ekskul nanti bisa ga naik kelas. Emang ada apa Jan lo nanya kayak begitu ?" jawab Karin.

"Sebenernya gue itu masih bingung mau ikut ekskul apa soalnya disekolah gue dulu ekskul itu ga wajib." ucap Jani.

"Oh kalo begitu lo ikut ekskul yang menarik perhatian lo aja Jan." ucap Karin.

"Gue ada kepikiran buat ikut ekskul lukis sih. Soalnya gue mau melatih bakat ngelukis gue." jawab Jani.

"Wih bagus tuh ekskul lukis. Tadinya gue berminat tapi karena gue gabisa ngelukis jadi ya gajadi deh gue ikut." Ucap Karin.

"Emang lo ikut ekskul apa Rin ?" tanya Jani kepada Karin.

"Gue ikut ekskul bultang Jan." jawab Karin.

"Wih mantep tuh lo ikut bultang." jawab Jani.

***

Pada saat jam ekskul, Jani bingung harus pergi keruangan mana karena dia belum tau ruangan lukis. Lalu tidak jauh dari tempat Jani berdiri, ada seorang laki-laki yang tidak Jani ketahui. Lalu Jani berinisiatif untuk bertanya kepada laki-laki tersebut.

"Hei lo tau ga dimana ruangan ekskul lukis ?" tanya Jani kepada cowok tersebut.

"Gue tau ruangan lukis. Tapi emang ada perlu apa lo sama lukis ?" tanya cowok yang belum diketahui namanya itu.

"Gua anak baru ekskul lukis jadi gua belum tau dimana ruangan ekskul lukis. Bisa lu tunjukkin ga dimana ekskul lukis ?" ucap Jani kepada cowok tersebut.

"Yaudah ayo gua anter lu ke ruangan ekskul lukis." jawab cowok tersebut.

***

Jani mengikuti ekskul lukis dengan semangat dan senang. Dia pun menyukainya karena lukis bisa mengekspresikan apa yang sedang kita rasakan. Saat ekskul Jani sempat izin kepada pelatih ekskul untuk ke kamar mandi. Saat sedang menuju kamar mandi, Jani sudah tidak bisa menahan karena ia sudah menahan untuk ke kamar mandi sejak lama.

Akhirnya Jani terpaksa harus berlari supaya bisa cepat sampai ke kamar mandi. Namun, saat menuju ke kamar mandi ia sempat menabrak seorang cowok. Tapi, Jani tidak menghiraukannya karena yang ada dipikirannya saat ini hanya cepat sampai ke kamar mandi.

"Woy, lo kalo jalan liat-liat kek jangan jalan seenaknya dipikir ini jalan punya nenek moyang lo apa." ucap cowok itu dengan kesal.

"Buset bener-bener ni orang gua ngomong dikacangin. Awas aja lo kalo ketemu lagi sama gue." ucap cowok tersebut.

***

Keesokannya saat Jani dan Karin menuju ke kantin, ada seorang cowok yang dengan sengaja menabrak Jani dengan kencang sampai Jani hampir terjatuh. Lalu Jani marah kepada cowok tersebut.

"Eh lo kalo jalan liat-liat dong jangan seenaknya." ucap Jani dengan kesal.

"Maaf ya gue nabrak lo. Tapi gua mau minta maaf lagi nih soalnya gua nabrak lu sengaja." ucap cowok tersebut dengan nada mengejek.

"Kenapa lo sengaja nabrak gua. Padahal kan gua gaada salah apa-apa sama lo." jawab jani.

"Lo ga sengaja nabrak gue ? Heiii lo itu pernah nabrak gue waktu itu. Udah gitu lo ga minta maaf lagi malah langsung pergi." ucap si cowok

"Kapan gue pernah nabrak lo. Gue gapernah ngerasa nabrak lo." jawab Jani dengan penuh kesal.

"Waktu itu lo pernah nabrak gue pas mau ke arah kamar mandi." ucap si cowok.

"Yaudah kalo begitu gue minta maaf karna ga sengaja nabrak lo." jawab Jani.

"Kalo begitu gue gamao maafin lo." jawab si cowok.

"Awas lo ya." jawab Jani.

***

Jani langsung menarik Karin untuk langsung masuk ke kantin dan meninggalkan si cowok yang belumia ketahui namanya itu. Karin yang menyaksikan perdebatan tadi hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Jan, lo tau ga yang tadi ribut sama lo itu siapa ?" tanya Karin kepada Jani.

"Emang siapa Rin cowok yang tadi ?" tanyab Jani kepada Karin.

"Cowok yang abis ribut sama lo itu Jipal." ucap Karin.

"Jipal ? Siapa Jipal ?" jawab Jani.

"Dia itu Jipal, anak ekskul lukis yang terkenal satu sekolah karena lukisannya yang bagus itu." jawab Karin.

"Hah lo serius dia anak ekskul lukis ?" tanya Jani.

"Iya Jan. Masa lo gatau sih kalo dia satu ekskul sama lo." ucap Karin.

"Tapi serius Rin gue gatau kalo dia itu anak ekskul lukis." jawab Jani.

"Yaudah lah Jan. Tapi lo harus hati-hati soalnya gue pernah denger dia itu jarang ngobrol sama cewek apalagi sampe kesel kayak tadi." ucap Karin.

"Emang kenapa Rin dia gapernah ngobrol sama cewek sampe gitu ?" tanya Jani kepada Karin.

"Gue juga gatau sih kenapa nya sampe dia bisa sampe kayak begitu." jawab Karin.

"Yaudah lah lagi pula gue udah gaada urusan sama dia Rin." jawab Jani.

Cowok yang tadi sempet debat sama Jani itu adalah Zikri Naufal. Zikri Naufal atau yang biasa dipanggil Jipal. Jipal itu panggilan untuk Zikri Naufal dari teman-temannya. Jipal dikenal sebagai cowok yang irit ngomong, gapernah keliatan deket sama cewek. Sekalinya ngobrol sama cewek hanya sepatah dua kata aja ga sampe panjang.

***

suatu hari Jipal dipanggil ke ruang guru oleh wali kelasnya.

"Jipal lu dipanggil sama Bu Mery disuruh ke ruang guru." ucap salah seorang teman Jipal.

Saat menuju ke ruang guru Jipal berfikir apa alasan ia dipanggil ke ruang guru. Padahal ia tidak membuat kesalahan yang fatal akhir-akhir ini. Namun, saat hampir sampai ke ruang guru Jipal melihat perempuan yang ia ketahui namanya itu Jani. Iya, dia adalah Jani. Perempuan yang beberapa bulan akhir ini menjadi teman ributnya.

"Loh Jani ngapain ke ruang guru ?" pikir Jipal dalam hati.

"Tuh cowok mau ngapain sih ke ruang guru juga ?" pikir Jani dalam hati.

Akhirnya mereka masuk ke ruang guru dan menuju ke meja yang sama, yaitu meja Bu Mery. Lalu Bu Mery memberitahu bahwa akan ada lomba lukisan se-Bandung yang akan diadakan di Alun-Alun Kota Bandung.

"Kalian Ibu panggil kesini karena Ibu mau bilang ke kalian kalo akan diadakan lomba lukisan se-Bandung. Ibu mau kalian berdua ikut lomba lukisan itu ya." ucap Bu Mery kepada Jani dan Jipal.

"Saya sama dia untuk lomba lukis bu ?" tanya Jipal kepada Bu Mery.

"Iya Jipal, kamu sama Jani ibu tugaskan untuk lomba melukis se-Bandung." jawab Bu Mery.

"Tapi saya gamau ikut lomba lukis itu bu." ucap Jani kepada Bu Mery.

"Kenapa kamu tidak mau ikut lomba lukis Jani ?" tanya Bu Mery kepada Jani.

"Saya rasa lukisan saya masih biasa-biasa aja bu. Masih banyak siswa lain yang lukisannya lebih bagus dari pada saya." jawab Jani kepada Bu Mery.

"Tapi ibu maunya kamu sama Jipal yang ikut lomba lukisnya Jan." ucap Bu Mery kepada Jani.

"Yaudah kalau begitu saya ikut lombanya deh bu." jawab Jani untuk mengiyakan perintah Bu Mery.

"Bagus kalau begitu Jan. Kamu harus ikut ya Pal, karena ibu ga terima penolakan." ucap Bu Mery.

"Iya Bu, saya akan ikut lomba lukis itu." jawab Jipal kepada Bu Mery.

***

Sebenernya Jani masih bingung apakah dia akan ikut lomba yang disuruh sama Bu Mery apa tidak. Karena ia bingung, akhirnya iya menanyakan hal tersebut kepada Karin. Ia ingin menanyakan pendapat Karin apakah Jani harus mengikuti lomba tersebut apa tidak.

'Kariiinnnn, gue mau nanya pendapat ke lo soalnya gue lagi bingung ini.' tanya Jani kepada Karin melalui chatting.

Tidak lama Karin pun membalas....

'Lo mau nanya pendapat apa Jan ke gue ?" tanya Karin kepada Jani.

'Jadi gua kan disuruh ikut sama Bu Mery lomba lukis. Tapi gue bingung ikut apa ga ya ?" tanya Jani kepada Karin.

'Saran gue sih mending lo ikut aja kan lumayan buat nambah-nambah pengalaman lo Jan." jawab Karin kepada Jani.

'Tapi masalahnya gue dipasangin sama si Jipal Rin buat ikut lomba nya.' ucap Jani.

'Anjir, lo beneran sama si Jipal disuruh ikut lomba lukis ?" tanya Karin karena ia masih tidak percaya atas apa yang Jani ucapkan.

'Menurut lo gue bohong gitu.' jawab Jani dengan kesal karena Karin tidak percaya kepadanya.

'Ya maap Jan, abis gue masih ga nyangka anjir kalo lo dipasangin sama si Jipal buat lomba.' jawab Karin karena masih tidak percaya dengan apa yang Jani ucapkan.

'Jadi gimana nih, gue lombanya apa ga ?" tanya Jani untuk memastikan jawabannya kepada Karin.

'Ya menurut gue sih mending lo ikut aja. Itung-itung sekalian lu bisa nanya-nanya sesuatu ke si Jipal.' jawab Karin.

'Dih mau nanya apaan gue ke dia. Lagipula kan gue gaada urusan apa-apa sama dia Rin.' timbal Jani dengan kesal.

'Yaudah iya maaf. Yaudah mending lo siapin diri lo aja buat lomba itu.' jawab Karin.

'Udah ah gue mau tidur ini udah malem soalnya. Waktunya gue buat tidur. Bye Jani.' ucap Jani kepada Karin sambil mengakhiri chattingannya.

'Yaudah deh makasih Karin. Bye.' jawab Jani sambil mengakhiri chattingannya dengan Karin.

***

***

Saat hari perlombaan berlangsung.....

Saat hendak pergi ke sekolah untuk berangkat bersama menuju tempat perlombaan, Jani masih bingung apakah dia akan mengikuti lomba tersebut apa tidak. Jani sebenarnya mau ikut lomba itu, tetapi masalahnya itu partner dia untuk lomba itu adalah Jipal. Sebenernya antara Jani dan Jipal tidak ada apa-apa tapi entah kenapa Jani merasa sebal saja kepada Jipal walaupun tidak ada masalah apapun.

Akhirnya Jani memutuskan untuk mengikuti lomba tersebut. Karena ia ingin mendapatkan pengalaman. Walaupun sebenernya ia merasa kurang sreg sama si Jipal.

Sebenarnya dalam benak Jipal ia bingung saat diberitahu bahwa ia akan diikuti lomba oleh Bu Mery. Apalagi ia akan dipasangkan dengan Anjani Kinan Prananda atau yang biasa dipanggil Jani. Ia bingung harus merasa senang atau kesal, karena ia belum tau sebenarnya perasaannya ke Jani itu seperti apa.

'Sebenernya gue ini kenapa sih. Kenapa gue kepikiran terus ama si Jani.' pikir Jipal dalam hati.

'Plis lah hati gue kenapa bisa kayak begini Tuhan.'

'Gue mau fokus dulu sama lomba lukis ini. Jadi plis lah jangan mikir yang aneh-aneh dulu.' pinta Jipal agar ia bisa lebih fokus terhadap lomba.

***

Saat perlombaan berlangsung, karena Jani dan Jipal mewakili sekolah mereka, mereka duduk bersebelahan. Pada saat perlombaan berlangsung, kuas Jani terjatuh ke lantai. Jipal berniat mengambil kuas Jani, tetapi Jipal tidak sengaja menginjak kuas kesayangan Jani. Kuas tersebut akhirnya patah. Jani yang melihat kuas kesayangannya patah, ia langsung marah kepada Jipal.

"YA AMPUN LO ITU NIAT GA SIH BUAT NOLONGIN GUE ?" tanya Jani kepada Jipal dengan penuh amarah.

"Eh maaf Jan gue ga sengaja bikin kuas lo jadi patah." jawab Jipal dengan merasa bersalah.

"TERUS KALO KUAS GUE PATAH, GIMANA GUE MAU NGELANJUTIN LUKISAN INI. APALAGI WAKTUNYA SEBENTAR LAGI." ucap Jani.

Karena Jipal dan Jani bertengkar akhirnya juri-juri pun menghampiri mereka berdua untuk mengetahui apa yang terjadi dengan mereka.

"Ada apa ini kok malah terjadi keributan ?" tanya juri penasaran.

"Ini pak, bu kuas saya tadi jatuh terus tidak sengaja cowok ini mematahkannya. Lalu saya bingung bagaimana cara melanjutkan lukisannya." jawab Jani.

"Bukannya kalian ini satu sekolah ? Lantas mengapa kalian malah bertengkar ?" tanya sang juri.

"Iya pak, bu maaf saya membawa kuas cadangan jadi kami masih bisa untuk melanjutkan perlombaan ini." ucap Jipal.

Setelah Jipal berbicara seperti itu, akhirnya juri tersebut pun meninggalkan mereka berdua. Dan Jani pun meredam emosinya untuk sementara waktu. Lalu dengan kuas cadangan tersebut Jani melanjutkan lukisannya.

***

***

Akhirnya, tibalah dihari yang paling ditunggu-tunggu dan juga membuat penasaran banyak siswa. Yap, hari itu adalah Hari pengumuman lomba.

Setelah perlombaan selesai, juri menilai lukisan dari setiap siswa-siswi yang mewakili sekolah mereka. Saat diumumkan ternyata Jipal mendapat Juara 2 dan Jani tidak mendapatkan Juara. Akhirnya Jani kesal kepada Jipal karena akibat ulahnya mematahkan kuasnya sehingga ia jadi tidak mendapatkan Juara. Karena kejadian tersebut Jani menjadi benci terhadap Jipal.

'Kalo aja si Jipal ga bikin ulah pasti gua bisa dapet juara.' pikir Jani di dalam hatinya.

Sejak pengumuman lomba kemarin, Jani menjadi benci terhadap Jipal. Dan disekolahpun apabila ia tidak sengaja melihat Jipal atau berpapasan dengan Jipal ia akan berusaha menghindar, karena dengan melihat muka Jipal akan membuat emosi Jani menjadi meningkat.

***

Jipal mulai menyadari bahwa Jani sikapnya menjadi aneh. Namun, Jipal sendiri belum mengetahui penyebab pasti mengapa Jani menjadi seperti itu. Karena perubahan sikap Jani yang drastis, Jipal mulai menyadari bahwa ada perasaan di dalam dirinya yang merasakan kehilangan sesuatu. Tetapi, Jipal masih belum memberitahu perasaan itu kepada siapa-siapa. Jadi, ia hanya menyimpan perasaan itu di dalam dirinya saja.

Tetapi, Jipal merasa perasaan itu hanyalah sementara. Ia berfikir perasaan itu akan hilang dalam sesaat.

Beberapa bulan kemudian....

Setelah waktu beberapa bulan kemarin, Jipal masih kepikiran atas perubahan sikap Jani kepadanya. Apakah ia harus menanyai kepada Jani atau tidak. Akhirnya, setelah Jipal memikirkan untuk menanyai tentang ada yang mengganjal dihatinya, ia pun memberanikan diri untuk menanyakan ke Jani atas perubahan sikapnya selama beberapa bulan belakangan ini.

'Apa gue harus nanyain ke Jani yaa, sebenernya dia ada masalah apa sama gue ya ?' pikir Jipal dalam hati.

'Tapi, kalo nanti pas gue tanya ke dia dia malah mikir yang aneh-aneh gimana'

'Huaaaaaaa, Tuhan gue harus gimana sekarang ?' tanya Jipal kepada dirinya sendiri.

'Tapi kalo gue ga nanya yang ada gue malah kepikiran terus.'

'Daripada gue kepikiran terus, mending gue tanyain aja deh ke dia besok.'

Keesokan harinya, saat sudah berada disekolah, Jipal segera mencari Jani untuk menanyakan atas perubahan sikap Jani beberapa bulan kebelakang ini. Namun, saat Jipal mencari-cari Jani ke penjuru sekolah, ia tidak menemukannya. Akhirnya, Jipal memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan Jani kepada Karin.

"Rin, lo tau ga Jani dimana, soalnya gua udah nyariin dia kemana-mana tapi ga ketemu." tanya Jipal kepada Karin.

"Emang ada perlu apa lo nyari si Jani ?" tanya Karin kepada Jipal.

"Ada hal penting yang mau gue tanyain sama dia. Jadi, lo tau ga dimana dia ?" tanya Jipal sekali lagi.

"Biasanya sih kalo jam segini dia suka ke perpus." jawab Karin.

"Oke oke, kalo gitu makasih ya Rin." ucap Jipal.

***

Setelah mengetahui keberadaan Jani, Jipal tanpa pikir panjang langsung menghampiri Jani di perpustakaan. Dan betul saja, saat Jipal sudah sampai di perpustakaan, ia dengan mudah menemukan seseorang yang sedang ia cari. Dan orang itu adalah Jani.

Saat itu juga Jipal langsung menghampiri Jani untuk menanyakan perihal atas perubahan sikap Jani.

"Jani, gue mau tanya sesuatu ke lo. Gue mohon lu jangan menghindar dari gue." ucap Jipal.

"Lo mau nanya apa ke gue ? Gue gapunya banyak waktu, jadi kalo lo mau tanya sesuatu mending lo tanya sekarang." ucap Jani.

"Kenapa lo beberapa bulan belakangan ini gue liat lo ngehindar dari gue ?" tanya Jipal.

"Gue ga ngehindar dari lo. Lonya aja kali yang merasa kalo gue ngehindar dari lo." jawab Jani.

"Tapi gue ngerasa kalo lo itu ngehindar dari gue. Dan gue ngerasa kalo lo ngehindarin gue itu pas abis lomba." ucap Jipal.

"Oh iya gue ngehindarin lo itu karna gue kesel sama lo, gue benci sama lo." jawab Jani.

"Kenapa lo kesel, benci sama gue. Emang gue ada salah apa sama lo sampe-sampe lo kesel ama gue." tanya Jipal.

"Gue kesel sama lo karena lo udah matahin kuas kesayangan gue. Lo tau kenapa kuas itu menjadi kuas kesayangan gue ?" ucap Jani dengan penuh emosi.

"Emang kenapa kuas itu jadi kuas kesayangan lo ? Kayaknya gue liat-liat kuas itu biasa-biasa aja." tanya Jipal.

"Kuas itu pemberian terakhir dari almarhum kakek gue makanya itu kuas jadi kuas kesayangan gue dan lo dengan seenaknya matahin kuas itu !!!!" jawab Jani.

"Kalo untuk itu gue minta maaf ke lo. Tapi beneran gue ga bermaksud buat matahin kuas lo, apalagi itu kuas kesayangan lo." ucap Jipal dengan penuh penyesalan.

"Gue udah maafin lo untuk soal itu, tapi maaf gua masih kesel dan benci sama lo. Dan permisi, gue harus pergi sekarang." jawab Jani.

"Lo boleh kesel sama gue, lo boleh benci sama gue. Tapi gue mohon lo jangan jauhin gua, jangan hindarin gue." pinta Jipal.

"Apa hak lo larang-larang gue buat jauhin lo ? Emang lo siapa gue, sampe gue harus nurutin mau lo." tanya Jani.

"Gue sayang sama lo Jan, gue gabisa nahan lagi buat ga ngomong ini sama lo." jawab Jipal.

"Lo sayang sama gue ? Tapi kenapa ?" tanya Jani.

"Gue gatau sejak kapan perasaan gue ini muncul, tapi semenjak lo ngindarin gue, gue merasa kehilangan lo Jan." jawab Jipal.

"Jadi gue mohon lu jangan jauhin gue." pinta Jipal.

"Gue harus pergi sekarang." ucap Jani.

***

Setelah kejadian di perpustakaan, Jani menjadi semakin menghindar dari Jipal. Ia merasa belum siap untuk bertemu dengan Jipal. Hari berganti hari, Jani pun masih menghindari Jipal. Namun, Jipal sendiri masih berusaha untuk mendekati dan membuat Jani tidak kesal dan benci kepadanya lagi.

Jipal merasa lama-kelamaan sikap Jani tak kunjung membaik, yang ada Jani makin menjauhinya sejak kejadian di perpustakaan.

Beberapa bulan kemudian.......

Sebentar lagi Jipal dan Jani akan memasuki kelas 12. Pada saat itu juga, Jipal dan Jani masih belum bisa membaik. Namun, Jipal masih belum bisa berhenti untuk meluluhkan hati Jani.

Setelah kenaikan kelas, akhirnya Jani tersadar bahwa selama ini ia sudah bersikap tidak baik terhadap Jipal. Akhirnya, ia memutuskan untuk bisa bersikap baik kepada Jipal. Lalu, ia meminta saran kepada Karin apa yang bisa ia lakukan untuk meminta maaf dan bersikap baik kepada Jipal. Jani pun langsung menghubungi Karin lewat telefon.

'Rin, gue mau nanya sesuatu ke lo.' tanya Jani kepada Karin.

'Lo mau nanya apa Jan ke gue ?' jawab Karin.

'Menurut lo, apa selama ini sikap gua ke Jipal itu jahat ga sih ?' tanya Jani kepada Karin.

'Menurut gue sih ya Jan, sikap lo ke Jipal itu udah kelewat bates, sebenernya itu lo sama dia ada masalah apa sih sampe lo ngindarin dia berbulan-bulan ?' tanya Karin.

'Gue sama dia adalah masalah tapi gue gabisa cerita ke lo tentang masalah gue itu.' jawab Jani.

'Yaudah kalo lo gamau cerita ke gue gapapa. Tapi gue minta ke lo, lo ubah sikap lo yang menurut gue masih kayak anak kecil.' ucap Karin.

'Iya Rin, sekarang gue mau kok ubah sikap gue ke dia. Tapi sebenernya gue mau ngasih tau lo suatu hal yang berkaitan sama si Jipal.' ucap Jani.

'Lo mau ngasih tau apa emang Jan ?' tanya Karin.

'Sebenernya Jipal itu udah pernah bilang ke gue kalo dia itu sayang sama gue. Tapi gue masih bingung sama perasaan gue sendiri ke dia itu gimana.' ucap Jani.

'Hah lo serius kalo si Jipal udah bilang itu ke lo ?' tanya Karin karena tidak percaya.

'Iya gue serius Rin, dia sendiri yang bilang ke gue.' jawab Jani.

'Saran gua mending lo ikutin aja apa kata hati lo. Karena itu bakal jadi jawaban yang terbaik untuk lo kedepannya.' saran Karin.

'Oke kalo gitu. Makasih Karin byeee.' ucap Jani sambil menutup telfonnya.

***

Sejak saat itu, Jani sudah mulai bersikap baik dan juga sudah mulai membuka hatinya untuk Jipal. Lalu ia berusaha mencari Jipal untuk meminta maaf kepada Jipal atas sikapnya yang tidak baik selama ini. Akhirnya, ia pun menemukan Jipal sedang duduk di bawah pohon. Tidak lama setelah ia melihat Jipal, Jani langsung menghampiri Jipal.

"Hai Jipal, lama kita ga ketemu." ucap Jani dengan tersenyum kaku.

"Hai juga Jani. Ada perlu apa lo samperin gue ?" tanya Jipal tanpa basa-basi.

"Sebenernya ada yang mau gue omongin sama lo." ucap Jani.

"Lo mau ngomong apa sama gue ?" tanya Jipal.

"Sebenernya gue mau minta maaf atas sikap gue selama ini yang ga baik sama lo." jawab Jani.

"Gue udah maafin lo dari lama kok. Lagipula, kan lo bersikap kayak gitu juga karna salah gue juga jadi wajar kalo lo bersikap kayak kemaren." ucap Jipal.

"Makasih Pal lo udah maafin gue." jawab Jani.

"Iya sama-sama Jan." jawab Jipal.

"Oiya sebenernya ada yang mau gue kasih tau ke lo." ucap Jani.

"Lo mau ngasih tau apa Jan ?" tanya Jipal.

"Gue udah mau buka hati buat lo Pal." jawab Jani.

"Hah lo serius Jan mau buka hati lo buat gue ?" tanya Jipal untuk memastikan.

"Iya gue serius Jipal." jawab Jani.

"Makasih ya Jan lo udah mau buka hati lo buat gue." ucap Jipal.

"Iya sama-sama Pal. Gue makasih sama lo karna lo udah sabar sama gue selama ini." ucap Jani.

"Iya sama-sama juga Jan." jawab Jipal.

***

Setelah kejadian tersebut, akhirnya hubungan Jani dan Jipal menjadi membaik. Mereka pun berhubungan selayaknya remaja pada umumnya. Tetapi, baik Jani maupun Jipal tidak ada yang membahas tentang status hubungan mereka. Karena menurut mereka, selagi tidak ada yang merasa rugi karena memiliki hubungan tanpa status atau yang biasa disebut friendzone mereka baik-baik saja.

                                                                                               ***

***

Beberapa bulan kemudian......

Hubungan Jani dan Jipal sampat saat ini masih berjalan dengan baik. Namun, saat menjelang Ujian Nasional hubungan Jani dan Jipal menjadi sedikit renggang. Entah apa yang menjadi penyebab renggangnya hubungan Jani dan Jipal. Suatu ketika, Jipal merasa ada yang aneh dengan sikap Jani belakangan ini. Akhirnya, Jipal pun memberanikan diri untuk menanyakan langsung kepada Jani agar ia tidak penasaran karena hubungannya dengan Jani semakin menjauh.

Namun, berkali-kali Jipal ingin mendekati Jani, ia seolah-olah menghindar dan pergi dari hadapan Jipal. Hal tersebut semakin membuat Jipal yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Jani.

Hingga suatu ketika, Jipal diam-diam mengikuti perginya Jani, ternyata Jani masuk ke perpustakaan. Akhirnya Jipal ikut masuk dan bersembunyi di dalam perpustakaan. Saat waktu dirasa pas, Jipal menghampiri Jani secara diam-diam dan dari belakang agar Jani tidak melihatnya.

Akhirnya Jipal berhasil duduk di sebelah Jani, Janipun segera bangkit, belum sempat pergi tangannya sudah dicekal oleh Jipal. Akhirnya secara terpaksa mereka berdua memulai obrolan.

"Jan, lo kenapa sih, akhir-akhir ini lo menjauh dari gue, tiap ketemu gue jangankan ketemu, liat gue aja lo langsung pergi. Sebenernya ada apa sih, cerita dong sama gue." Jipal yang memulai obrolan

"Gk, itu cuma perasaan lo aja kali, gue biasa aja tuh" Jani berusaha mengelak

"Apa iya cuma perasaan gue aja, ahh tapi enggak deh, gue ngerasa dia emg ngejauhin gue" Jipal berperang dalam batinnya.

"Udah gk ada lagi kan? Udah ya gue mau pergi dulu mau belajar, bayy." Jani tergesa-gesa keluar dari perpus.

"Eh tunggu dulu, yah udah pergi duluan, kenapa si sebenernya ?" Jipal frustasi karena tidak mendapat jawaban yang jelas dari Jani.

Hingga tidak terasa, UNpun selesai. Setelah insiden obrolan di perpus, Jipal dan Jani sudah tidak terlibat obrolan dan tidak pernah saling bertemu, walaupun mereka satu sekolah. Hubungan mereka pun dirasa sudah sangat renggang. Karena tidak sabar dan merasa penasaran bagaimana kelanjutan hubungan mereka, Jipal pun mulai mencari kembali keberadaan Jani. Ia menemukan Jani di taman belakang sekolah yang sepi sehingga ia bisa dengan leluasa mengobrol dengan Jani.

"Hai Jan, lama yaa kita gak kaya gini lagi, ngobrol bareng, nongki bareng, main bareng, padahal kita satu sekolah, kangenn deh masa-masa itu lagi." Jipal bercerita sambil matanya menerawang ke depan memutar kembali kenangan dulu

Jani pun terdiam cukup lama, sambil memikirkan jawaban apa yang akan diberikan untuk Jipal. Akhirnya, tidak lama setelah itu Jani pun angkat bicara. Berusaha memberikan penjelasan yang selama ini ingin ia jelaskan kepada Jipal.

"Pal, sebelumnya gue minta maaf yaa atas sikap gue kemarin pas di perpus, gue cuek banget sama lo, bahkan langsung tiba-tiba pergi. Terus juga, sebenernya, ada yang mau gue omongin ama lo Pal." ucap Jani kepada Jipal.

"Lo mau ngomong apa Jan ? Kalo lo mau ngomong, ngomong aja kali gausa canggung kek gini. Kek ama siapa ae anjir lu." balas Jipal.

"Jipal, kayaknya kita sampe disini aja ya. Soalnya, gue udah gabisa sama lo lagi. Gue harap, setelah ini lo bakal bahagia ya Pal." ucap Jani kepada Jipal.

"Mmaksud lo apa Jan ngomong kayak begitu ? Gue ga ngerti lo ngomong apa Jan." Tanya Jipal kepada Jani karena ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Jani.

"Gue maunya kita cukup jadi teman aja. Karena, untuk saat ini gue mau lanjutin pendidikan gue dulu. Maaf ya pal, dan terimakasih untuk semua kenangannya, gue seneng bisa punya kenangan indah sama lo." Ucap Jani kepada Jipal.

Jipal sempat merasa kaget, namun dia mencoba bersikap biasa saja, walaupun dalam hatinya sangat merasa sedih.

"Oh oke, klo emang ini yang lo mau, gue turutin kok, semangatt menempuh pendidikan yang lebih tinggi yaa, janji sama gue lo harus sukses. Kalo lo ga sukses gue akan marah sama lo." Ucap Jipal dengan lapang dada menerima kenyataan ini.

"Lo juga pal, harus sukses. Awas aja sampe lo ga sukses, gue gamao jadi temen lo lagi haha." balas Jani.

Akhirnya, mereka berdua menautkan jari mereka sebagai tanda janji. Untuk saling memperbaiki diri untuk sebuah pembuktian bahwa janji harus ditepati.

                                                                             -TAMAT-

 

 PERJALANAN

Anjani Kinan Prananda atau yang biasa dipanggil Jani merupakan gadis kelahiran Bandung. Ia adalah anak seorang TNI. Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Sebagai anak dari seorang TNI, Jani harus siap untuk pindah-pindah sekolah. Saat ini, Jani harus pindah dari Lombok ke Bandung. Karena kepindahannya ke Bandung, Jani sangat menyukainya. Karena di Bandung ia mempunyai kenangan yang indah bersama kakeknya yang sudah meninggal.

Jani sekarang sudah menginjak sudah kelas 11 SMA. Dulunya ia bersekolah di SMAN 5 Lombok. Namun, sekarang ia bersekolah di SMAN 15 Bandung. Pada saat hari pertama ia pindah sekolah di Bandung, ia bangun kesiangan.

"Jani bangun sayang ini sudah jam berapa nanti kamu bisa telat ke sekolah lho Jani." ucap ibu Jani.

"Iya mah sebentar lagi. Ini masih jam 04.30 mah Jani masih ngantuk." ucap Jani.

"Sekarang sudah jam 05.50 sayang kamu bisa telat. Nanti kalau kamu telat mamah ga tanggung jawab lho ya." ucap ibu Jani.

"Astaghfirullah mamah kenapa ga bangunin aku dari tadi sih." ucap Jani.

Jani pun dengan langkah terburu-buru langsung lari ke kamar mandi untuk mandi. Lalu setelah selesai mandi, Jani langsung pergi kesekolah tanpa sarapan terlebih dahulu.

Pada saat sedang menunggu angkot dijalan, Jani sampai mendumel sendiri karena angkotnya belum sampai.

"Ih mana sih angkotnya, ini udah jam berapa gue kan bisa telat kalo angkotnya belum dateng-dateng." ucap Jani karena ia kesal angkotnya belum datang-datang.

***

Setelah sampai di depan gerbang, Jani harus berlari karena sebentar lagi gerbang akan ditutup. Jani akhirnya sampai di depan gerbang yang nyaris tertutup, apabila ia tidak berlari dengan cepat.

Setelah itu Jani bingung karena ia belum tahu ia akan masuk ke kelas mana. Tidak jauh dari tempat Jani berdiri, ada seseorang perempuan yang melihat Jani kebingungan. Lalu perempuan itu bertanya kepada Jani.

"Lo anak baru ya ? Kok gue gapernah liat muka lo sih disekolah ini." tanya seorang perempuan yang Jani belum ketahui namanya itu.

"Iya gue anak baru, bisa tunjukkin ke gue ga dimana ruang guru ?" tanya Jani kepada seorang perempuan itu.

"Ayo sini gue tunjukkin dimana ruang guru. Btw, nama gue Karina Dea Amalia. Lo bisa panggil gua Karin. Lo pindahan dari mana ya kalo gue boleh tau ?" tanya Karin kepada Jani.

"Gue pindahan dari Lombok, tapi gue lahir di Bandung Rin." ucap Jani ke Karin

"Oh gitu, yaudah kalo gitu gue anter lo ke ruang guru. Yok Jan." ucap Karin.

Setelah sampai di ruang guru Jani bertanya kepada salah seorang guru yang ada disana.

"Permisi bu, saya anak baru pindahan dari Lombok, saya belum tau kelas saya dimana. Boleh ibu tunjukkin dimana kelas saya ?" tanya Jani kepada guru tersebut.

"Oh mari ibu antar ke ruang tata usaha untuk mengetahui kamu dikelas berapa. Saya Bu Aminah guru Biologi." ucap Bu Aminah kepada Jani.

Setelah Jani mengetahui dia mendapat kelas berapa, akhirnya Jani mencari kelasnya. Setelah menemukan kelasnya, Jani mengetuk pintu untuk bisa masuk kedalam kelasnya.

"Permisi pak, saya izin masuk. Saya murid baru pindahan dari Lombok." ucap Jani kepada guru laki-laki tersebut.

"Oh iya silahkan masuk. Sekalian kamu perkenalkan diri kamu kepada teman-teman baru kamu." ucap guru laki-laki tersebut kepada Jani.

"Perkenalkan nama gue Anjani Kinan Prananda. Kalian bisa panggil gue Jani. Gue pindahan dari Lombok. Salam kenal semua." ucap Jani sambil memperkenalkan dirinya kepada teman-teman barunya.

Setelah memperkenalkan diri, Jani mencari bangku untuk ia duduki. Saat itu bangku yang kosong hanya satu. Lalu Jani menuju bangku kosong tersebut dan melihat orang itu ternyata Karin. Gadis yang ia temui pagi tadi saat sedang mencari ruang guru.

Lalu Jani bertanya kepada Karin. "Rin, gue boleh kan duduk disamping lo ?"

"Sini-sini boleh kok Jan, malah dengan senang hati gue duduk sama lo." ucap Karin kepada Jani.

"Btw, lo udah tau mata pelajaran hari ini belum Jan ?" tanya Karin kepada Jani.

"Gue belum tau sih pelajaran hari ini apa aja. Tapi gue udah bawa buku tulis kosong yang lumayan banyak kok." jawab Jani kepada Karin.

"Oh yaudah kalo gitu bagus." jawab Karin.

***

Jani belum tau dia akan ikut ekstrakulikuler apa karena pada sekolah sebelumnya Jani tidak mengikuti ekskul karena disana ekskul itu tidak wajib. Lalu Jani bertanya kepada Karin disekolah ini ada ekskul apa aja.

"Rin, emang disekolah ini ekskul itu wajib ya ? Soalnya disekolah gue dulu ekskul itu ga wajib." tanya Jani kepada Karin.

"Iya Jan, kalo disini ekskul itu wajib. Soalnya kalo ga ekskul nanti bisa ga naik kelas. Emang ada apa Jan lo nanya kayak begitu ?" jawab Karin.

"Sebenernya gue itu masih bingung mau ikut ekskul apa soalnya disekolah gue dulu ekskul itu ga wajib." ucap Jani.

"Oh kalo begitu lo ikut ekskul yang menarik perhatian lo aja Jan." ucap Karin.

"Gue ada kepikiran buat ikut ekskul lukis sih. Soalnya gue mau melatih bakat ngelukis gue." jawab Jani.

"Wih bagus tuh ekskul lukis. Tadinya gue berminat tapi karena gue gabisa ngelukis jadi ya gajadi deh gue ikut." Ucap Karin.

"Emang lo ikut ekskul apa Rin ?" tanya Jani kepada Karin.

"Gue ikut ekskul bultang Jan." jawab Karin.

"Wih mantep tuh lo ikut bultang." jawab Jani.

***

Pada saat jam ekskul, Jani bingung harus pergi keruangan mana karena dia belum tau ruangan lukis. Lalu tidak jauh dari tempat Jani berdiri, ada seorang laki-laki yang tidak Jani ketahui. Lalu Jani berinisiatif untuk bertanya kepada laki-laki tersebut.

"Hei lo tau ga dimana ruangan ekskul lukis ?" tanya Jani kepada cowok tersebut.

"Gue tau ruangan lukis. Tapi emang ada perlu apa lo sama lukis ?" tanya cowok yang belum diketahui namanya itu.

"Gua anak baru ekskul lukis jadi gua belum tau dimana ruangan ekskul lukis. Bisa lu tunjukkin ga dimana ekskul lukis ?" ucap Jani kepada cowok tersebut.

"Yaudah ayo gua anter lu ke ruangan ekskul lukis." jawab cowok tersebut.

***

Jani mengikuti ekskul lukis dengan semangat dan senang. Dia pun menyukainya karena lukis bisa mengekspresikan apa yang sedang kita rasakan. Saat ekskul Jani sempat izin kepada pelatih ekskul untuk ke kamar mandi. Saat sedang menuju kamar mandi, Jani sudah tidak bisa menahan karena ia sudah menahan untuk ke kamar mandi sejak lama.

Akhirnya Jani terpaksa harus berlari supaya bisa cepat sampai ke kamar mandi. Namun, saat menuju ke kamar mandi ia sempat menabrak seorang cowok. Tapi, Jani tidak menghiraukannya karena yang ada dipikirannya saat ini hanya cepat sampai ke kamar mandi.

"Woy, lo kalo jalan liat-liat kek jangan jalan seenaknya dipikir ini jalan punya nenek moyang lo apa." ucap cowok itu dengan kesal.

"Buset bener-bener ni orang gua ngomong dikacangin. Awas aja lo kalo ketemu lagi sama gue." ucap cowok tersebut.

***

Keesokannya saat Jani dan Karin menuju ke kantin, ada seorang cowok yang dengan sengaja menabrak Jani dengan kencang sampai Jani hampir terjatuh. Lalu Jani marah kepada cowok tersebut.

"Eh lo kalo jalan liat-liat dong jangan seenaknya." ucap Jani dengan kesal.

"Maaf ya gue nabrak lo. Tapi gua mau minta maaf lagi nih soalnya gua nabrak lu sengaja." ucap cowok tersebut dengan nada mengejek.

"Kenapa lo sengaja nabrak gua. Padahal kan gua gaada salah apa-apa sama lo." jawab jani.

"Lo ga sengaja nabrak gue ? Heiii lo itu pernah nabrak gue waktu itu. Udah gitu lo ga minta maaf lagi malah langsung pergi." ucap si cowok

"Kapan gue pernah nabrak lo. Gue gapernah ngerasa nabrak lo." jawab Jani dengan penuh kesal.

"Waktu itu lo pernah nabrak gue pas mau ke arah kamar mandi." ucap si cowok.

"Yaudah kalo begitu gue minta maaf karna ga sengaja nabrak lo." jawab Jani.

"Kalo begitu gue gamao maafin lo." jawab si cowok.

"Awas lo ya." jawab Jani.

***

Jani langsung menarik Karin untuk langsung masuk ke kantin dan meninggalkan si cowok yang belumia ketahui namanya itu. Karin yang menyaksikan perdebatan tadi hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Jan, lo tau ga yang tadi ribut sama lo itu siapa ?" tanya Karin kepada Jani.

"Emang siapa Rin cowok yang tadi ?" tanyab Jani kepada Karin.

"Cowok yang abis ribut sama lo itu Jipal." ucap Karin.

"Jipal ? Siapa Jipal ?" jawab Jani.

"Dia itu Jipal, anak ekskul lukis yang terkenal satu sekolah karena lukisannya yang bagus itu." jawab Karin.

"Hah lo serius dia anak ekskul lukis ?" tanya Jani.

"Iya Jan. Masa lo gatau sih kalo dia satu ekskul sama lo." ucap Karin.

"Tapi serius Rin gue gatau kalo dia itu anak ekskul lukis." jawab Jani.

"Yaudah lah Jan. Tapi lo harus hati-hati soalnya gue pernah denger dia itu jarang ngobrol sama cewek apalagi sampe kesel kayak tadi." ucap Karin.

"Emang kenapa Rin dia gapernah ngobrol sama cewek sampe gitu ?" tanya Jani kepada Karin.

"Gue juga gatau sih kenapa nya sampe dia bisa sampe kayak begitu." jawab Karin.

"Yaudah lah lagi pula gue udah gaada urusan sama dia Rin." jawab Jani.

Cowok yang tadi sempet debat sama Jani itu adalah Zikri Naufal. Zikri Naufal atau yang biasa dipanggil Jipal. Jipal itu panggilan untuk Zikri Naufal dari teman-temannya. Jipal dikenal sebagai cowok yang irit ngomong, gapernah keliatan deket sama cewek. Sekalinya ngobrol sama cewek hanya sepatah dua kata aja ga sampe panjang.

***

suatu hari Jipal dipanggil ke ruang guru oleh wali kelasnya.

"Jipal lu dipanggil sama Bu Mery disuruh ke ruang guru." ucap salah seorang teman Jipal.

Saat menuju ke ruang guru Jipal berfikir apa alasan ia dipanggil ke ruang guru. Padahal ia tidak membuat kesalahan yang fatal akhir-akhir ini. Namun, saat hampir sampai ke ruang guru Jipal melihat perempuan yang ia ketahui namanya itu Jani. Iya, dia adalah Jani. Perempuan yang beberapa bulan akhir ini menjadi teman ributnya.

"Loh Jani ngapain ke ruang guru ?" pikir Jipal dalam hati.

"Tuh cowok mau ngapain sih ke ruang guru juga ?" pikir Jani dalam hati.

Akhirnya mereka masuk ke ruang guru dan menuju ke meja yang sama, yaitu meja Bu Mery. Lalu Bu Mery memberitahu bahwa akan ada lomba lukisan se-Bandung yang akan diadakan di Alun-Alun Kota Bandung.

"Kalian Ibu panggil kesini karena Ibu mau bilang ke kalian kalo akan diadakan lomba lukisan se-Bandung. Ibu mau kalian berdua ikut lomba lukisan itu ya." ucap Bu Mery kepada Jani dan Jipal.

"Saya sama dia untuk lomba lukis bu ?" tanya Jipal kepada Bu Mery.

"Iya Jipal, kamu sama Jani ibu tugaskan untuk lomba melukis se-Bandung." jawab Bu Mery.

"Tapi saya gamau ikut lomba lukis itu bu." ucap Jani kepada Bu Mery.

"Kenapa kamu tidak mau ikut lomba lukis Jani ?" tanya Bu Mery kepada Jani.

"Saya rasa lukisan saya masih biasa-biasa aja bu. Masih banyak siswa lain yang lukisannya lebih bagus dari pada saya." jawab Jani kepada Bu Mery.

"Tapi ibu maunya kamu sama Jipal yang ikut lomba lukisnya Jan." ucap Bu Mery kepada Jani.

"Yaudah kalau begitu saya ikut lombanya deh bu." jawab Jani untuk mengiyakan perintah Bu Mery.

"Bagus kalau begitu Jan. Kamu harus ikut ya Pal, karena ibu ga terima penolakan." ucap Bu Mery.

"Iya Bu, saya akan ikut lomba lukis itu." jawab Jipal kepada Bu Mery.

***

Sebenernya Jani masih bingung apakah dia akan ikut lomba yang disuruh sama Bu Mery apa tidak. Karena ia bingung, akhirnya iya menanyakan hal tersebut kepada Karin. Ia ingin menanyakan pendapat Karin apakah Jani harus mengikuti lomba tersebut apa tidak.

'Kariiinnnn, gue mau nanya pendapat ke lo soalnya gue lagi bingung ini.' tanya Jani kepada Karin melalui chatting.

Tidak lama Karin pun membalas....

'Lo mau nanya pendapat apa Jan ke gue ?" tanya Karin kepada Jani.

'Jadi gua kan disuruh ikut sama Bu Mery lomba lukis. Tapi gue bingung ikut apa ga ya ?" tanya Jani kepada Karin.

'Saran gue sih mending lo ikut aja kan lumayan buat nambah-nambah pengalaman lo Jan." jawab Karin kepada Jani.

'Tapi masalahnya gue dipasangin sama si Jipal Rin buat ikut lomba nya.' ucap Jani.

'Anjir, lo beneran sama si Jipal disuruh ikut lomba lukis ?" tanya Karin karena ia masih tidak percaya atas apa yang Jani ucapkan.

'Menurut lo gue bohong gitu.' jawab Jani dengan kesal karena Karin tidak percaya kepadanya.

'Ya maap Jan, abis gue masih ga nyangka anjir kalo lo dipasangin sama si Jipal buat lomba.' jawab Karin karena masih tidak percaya dengan apa yang Jani ucapkan.

'Jadi gimana nih, gue lombanya apa ga ?" tanya Jani untuk memastikan jawabannya kepada Karin.

'Ya menurut gue sih mending lo ikut aja. Itung-itung sekalian lu bisa nanya-nanya sesuatu ke si Jipal.' jawab Karin.

'Dih mau nanya apaan gue ke dia. Lagipula kan gue gaada urusan apa-apa sama dia Rin.' timbal Jani dengan kesal.

'Yaudah iya maaf. Yaudah mending lo siapin diri lo aja buat lomba itu.' jawab Karin.

'Udah ah gue mau tidur ini udah malem soalnya. Waktunya gue buat tidur. Bye Jani.' ucap Jani kepada Karin sambil mengakhiri chattingannya.

'Yaudah deh makasih Karin. Bye.' jawab Jani sambil mengakhiri chattingannya dengan Karin.

***

***

Saat hari perlombaan berlangsung.....

Saat hendak pergi ke sekolah untuk berangkat bersama menuju tempat perlombaan, Jani masih bingung apakah dia akan mengikuti lomba tersebut apa tidak. Jani sebenarnya mau ikut lomba itu, tetapi masalahnya itu partner dia untuk lomba itu adalah Jipal. Sebenernya antara Jani dan Jipal tidak ada apa-apa tapi entah kenapa Jani merasa sebal saja kepada Jipal walaupun tidak ada masalah apapun.

Akhirnya Jani memutuskan untuk mengikuti lomba tersebut. Karena ia ingin mendapatkan pengalaman. Walaupun sebenernya ia merasa kurang sreg sama si Jipal.

Sebenarnya dalam benak Jipal ia bingung saat diberitahu bahwa ia akan diikuti lomba oleh Bu Mery. Apalagi ia akan dipasangkan dengan Anjani Kinan Prananda atau yang biasa dipanggil Jani. Ia bingung harus merasa senang atau kesal, karena ia belum tau sebenarnya perasaannya ke Jani itu seperti apa.

'Sebenernya gue ini kenapa sih. Kenapa gue kepikiran terus ama si Jani.' pikir Jipal dalam hati.

'Plis lah hati gue kenapa bisa kayak begini Tuhan.'

'Gue mau fokus dulu sama lomba lukis ini. Jadi plis lah jangan mikir yang aneh-aneh dulu.' pinta Jipal agar ia bisa lebih fokus terhadap lomba.

***

Saat perlombaan berlangsung, karena Jani dan Jipal mewakili sekolah mereka, mereka duduk bersebelahan. Pada saat perlombaan berlangsung, kuas Jani terjatuh ke lantai. Jipal berniat mengambil kuas Jani, tetapi Jipal tidak sengaja menginjak kuas kesayangan Jani. Kuas tersebut akhirnya patah. Jani yang melihat kuas kesayangannya patah, ia langsung marah kepada Jipal.

"YA AMPUN LO ITU NIAT GA SIH BUAT NOLONGIN GUE ?" tanya Jani kepada Jipal dengan penuh amarah.

"Eh maaf Jan gue ga sengaja bikin kuas lo jadi patah." jawab Jipal dengan merasa bersalah.

"TERUS KALO KUAS GUE PATAH, GIMANA GUE MAU NGELANJUTIN LUKISAN INI. APALAGI WAKTUNYA SEBENTAR LAGI." ucap Jani.

Karena Jipal dan Jani bertengkar akhirnya juri-juri pun menghampiri mereka berdua untuk mengetahui apa yang terjadi dengan mereka.

"Ada apa ini kok malah terjadi keributan ?" tanya juri penasaran.

"Ini pak, bu kuas saya tadi jatuh terus tidak sengaja cowok ini mematahkannya. Lalu saya bingung bagaimana cara melanjutkan lukisannya." jawab Jani.

"Bukannya kalian ini satu sekolah ? Lantas mengapa kalian malah bertengkar ?" tanya sang juri.

"Iya pak, bu maaf saya membawa kuas cadangan jadi kami masih bisa untuk melanjutkan perlombaan ini." ucap Jipal.

Setelah Jipal berbicara seperti itu, akhirnya juri tersebut pun meninggalkan mereka berdua. Dan Jani pun meredam emosinya untuk sementara waktu. Lalu dengan kuas cadangan tersebut Jani melanjutkan lukisannya.

***

***

Akhirnya, tibalah dihari yang paling ditunggu-tunggu dan juga membuat penasaran banyak siswa. Yap, hari itu adalah Hari pengumuman lomba.

Setelah perlombaan selesai, juri menilai lukisan dari setiap siswa-siswi yang mewakili sekolah mereka. Saat diumumkan ternyata Jipal mendapat Juara 2 dan Jani tidak mendapatkan Juara. Akhirnya Jani kesal kepada Jipal karena akibat ulahnya mematahkan kuasnya sehingga ia jadi tidak mendapatkan Juara. Karena kejadian tersebut Jani menjadi benci terhadap Jipal.

'Kalo aja si Jipal ga bikin ulah pasti gua bisa dapet juara.' pikir Jani di dalam hatinya.

Sejak pengumuman lomba kemarin, Jani menjadi benci terhadap Jipal. Dan disekolahpun apabila ia tidak sengaja melihat Jipal atau berpapasan dengan Jipal ia akan berusaha menghindar, karena dengan melihat muka Jipal akan membuat emosi Jani menjadi meningkat.

***

Jipal mulai menyadari bahwa Jani sikapnya menjadi aneh. Namun, Jipal sendiri belum mengetahui penyebab pasti mengapa Jani menjadi seperti itu. Karena perubahan sikap Jani yang drastis, Jipal mulai menyadari bahwa ada perasaan di dalam dirinya yang merasakan kehilangan sesuatu. Tetapi, Jipal masih belum memberitahu perasaan itu kepada siapa-siapa. Jadi, ia hanya menyimpan perasaan itu di dalam dirinya saja.

Tetapi, Jipal merasa perasaan itu hanyalah sementara. Ia berfikir perasaan itu akan hilang dalam sesaat.

Beberapa bulan kemudian....

Setelah waktu beberapa bulan kemarin, Jipal masih kepikiran atas perubahan sikap Jani kepadanya. Apakah ia harus menanyai kepada Jani atau tidak. Akhirnya, setelah Jipal memikirkan untuk menanyai tentang ada yang mengganjal dihatinya, ia pun memberanikan diri untuk menanyakan ke Jani atas perubahan sikapnya selama beberapa bulan belakangan ini.

'Apa gue harus nanyain ke Jani yaa, sebenernya dia ada masalah apa sama gue ya ?' pikir Jipal dalam hati.

'Tapi, kalo nanti pas gue tanya ke dia dia malah mikir yang aneh-aneh gimana'

'Huaaaaaaa, Tuhan gue harus gimana sekarang ?' tanya Jipal kepada dirinya sendiri.

'Tapi kalo gue ga nanya yang ada gue malah kepikiran terus.'

'Daripada gue kepikiran terus, mending gue tanyain aja deh ke dia besok.'

Keesokan harinya, saat sudah berada disekolah, Jipal segera mencari Jani untuk menanyakan atas perubahan sikap Jani beberapa bulan kebelakang ini. Namun, saat Jipal mencari-cari Jani ke penjuru sekolah, ia tidak menemukannya. Akhirnya, Jipal memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan Jani kepada Karin.

"Rin, lo tau ga Jani dimana, soalnya gua udah nyariin dia kemana-mana tapi ga ketemu." tanya Jipal kepada Karin.

"Emang ada perlu apa lo nyari si Jani ?" tanya Karin kepada Jipal.

"Ada hal penting yang mau gue tanyain sama dia. Jadi, lo tau ga dimana dia ?" tanya Jipal sekali lagi.

"Biasanya sih kalo jam segini dia suka ke perpus." jawab Karin.

"Oke oke, kalo gitu makasih ya Rin." ucap Jipal.

***

Setelah mengetahui keberadaan Jani, Jipal tanpa pikir panjang langsung menghampiri Jani di perpustakaan. Dan betul saja, saat Jipal sudah sampai di perpustakaan, ia dengan mudah menemukan seseorang yang sedang ia cari. Dan orang itu adalah Jani.

Saat itu juga Jipal langsung menghampiri Jani untuk menanyakan perihal atas perubahan sikap Jani.

"Jani, gue mau tanya sesuatu ke lo. Gue mohon lu jangan menghindar dari gue." ucap Jipal.

"Lo mau nanya apa ke gue ? Gue gapunya banyak waktu, jadi kalo lo mau tanya sesuatu mending lo tanya sekarang." ucap Jani.

"Kenapa lo beberapa bulan belakangan ini gue liat lo ngehindar dari gue ?" tanya Jipal.

"Gue ga ngehindar dari lo. Lonya aja kali yang merasa kalo gue ngehindar dari lo." jawab Jani.

"Tapi gue ngerasa kalo lo itu ngehindar dari gue. Dan gue ngerasa kalo lo ngehindarin gue itu pas abis lomba." ucap Jipal.

"Oh iya gue ngehindarin lo itu karna gue kesel sama lo, gue benci sama lo." jawab Jani.

"Kenapa lo kesel, benci sama gue. Emang gue ada salah apa sama lo sampe-sampe lo kesel ama gue." tanya Jipal.

"Gue kesel sama lo karena lo udah matahin kuas kesayangan gue. Lo tau kenapa kuas itu menjadi kuas kesayangan gue ?" ucap Jani dengan penuh emosi.

"Emang kenapa kuas itu jadi kuas kesayangan lo ? Kayaknya gue liat-liat kuas itu biasa-biasa aja." tanya Jipal.

"Kuas itu pemberian terakhir dari almarhum kakek gue makanya itu kuas jadi kuas kesayangan gue dan lo dengan seenaknya matahin kuas itu !!!!" jawab Jani.

"Kalo untuk itu gue minta maaf ke lo. Tapi beneran gue ga bermaksud buat matahin kuas lo, apalagi itu kuas kesayangan lo." ucap Jipal dengan penuh penyesalan.

"Gue udah maafin lo untuk soal itu, tapi maaf gua masih kesel dan benci sama lo. Dan permisi, gue harus pergi sekarang." jawab Jani.

"Lo boleh kesel sama gue, lo boleh benci sama gue. Tapi gue mohon lo jangan jauhin gua, jangan hindarin gue." pinta Jipal.

"Apa hak lo larang-larang gue buat jauhin lo ? Emang lo siapa gue, sampe gue harus nurutin mau lo." tanya Jani.

"Gue sayang sama lo Jan, gue gabisa nahan lagi buat ga ngomong ini sama lo." jawab Jipal.

"Lo sayang sama gue ? Tapi kenapa ?" tanya Jani.

"Gue gatau sejak kapan perasaan gue ini muncul, tapi semenjak lo ngindarin gue, gue merasa kehilangan lo Jan." jawab Jipal.

"Jadi gue mohon lu jangan jauhin gue." pinta Jipal.

"Gue harus pergi sekarang." ucap Jani.

***

Setelah kejadian di perpustakaan, Jani menjadi semakin menghindar dari Jipal. Ia merasa belum siap untuk bertemu dengan Jipal. Hari berganti hari, Jani pun masih menghindari Jipal. Namun, Jipal sendiri masih berusaha untuk mendekati dan membuat Jani tidak kesal dan benci kepadanya lagi.

Jipal merasa lama-kelamaan sikap Jani tak kunjung membaik, yang ada Jani makin menjauhinya sejak kejadian di perpustakaan.

Beberapa bulan kemudian.......

Sebentar lagi Jipal dan Jani akan memasuki kelas 12. Pada saat itu juga, Jipal dan Jani masih belum bisa membaik. Namun, Jipal masih belum bisa berhenti untuk meluluhkan hati Jani.

Setelah kenaikan kelas, akhirnya Jani tersadar bahwa selama ini ia sudah bersikap tidak baik terhadap Jipal. Akhirnya, ia memutuskan untuk bisa bersikap baik kepada Jipal. Lalu, ia meminta saran kepada Karin apa yang bisa ia lakukan untuk meminta maaf dan bersikap baik kepada Jipal. Jani pun langsung menghubungi Karin lewat telefon.

'Rin, gue mau nanya sesuatu ke lo.' tanya Jani kepada Karin.

'Lo mau nanya apa Jan ke gue ?' jawab Karin.

'Menurut lo, apa selama ini sikap gua ke Jipal itu jahat ga sih ?' tanya Jani kepada Karin.

'Menurut gue sih ya Jan, sikap lo ke Jipal itu udah kelewat bates, sebenernya itu lo sama dia ada masalah apa sih sampe lo ngindarin dia berbulan-bulan ?' tanya Karin.

'Gue sama dia adalah masalah tapi gue gabisa cerita ke lo tentang masalah gue itu.' jawab Jani.

'Yaudah kalo lo gamau cerita ke gue gapapa. Tapi gue minta ke lo, lo ubah sikap lo yang menurut gue masih kayak anak kecil.' ucap Karin.

'Iya Rin, sekarang gue mau kok ubah sikap gue ke dia. Tapi sebenernya gue mau ngasih tau lo suatu hal yang berkaitan sama si Jipal.' ucap Jani.

'Lo mau ngasih tau apa emang Jan ?' tanya Karin.

'Sebenernya Jipal itu udah pernah bilang ke gue kalo dia itu sayang sama gue. Tapi gue masih bingung sama perasaan gue sendiri ke dia itu gimana.' ucap Jani.

'Hah lo serius kalo si Jipal udah bilang itu ke lo ?' tanya Karin karena tidak percaya.

'Iya gue serius Rin, dia sendiri yang bilang ke gue.' jawab Jani.

'Saran gua mending lo ikutin aja apa kata hati lo. Karena itu bakal jadi jawaban yang terbaik untuk lo kedepannya.' saran Karin.

'Oke kalo gitu. Makasih Karin byeee.' ucap Jani sambil menutup telfonnya.

***

Sejak saat itu, Jani sudah mulai bersikap baik dan juga sudah mulai membuka hatinya untuk Jipal. Lalu ia berusaha mencari Jipal untuk meminta maaf kepada Jipal atas sikapnya yang tidak baik selama ini. Akhirnya, ia pun menemukan Jipal sedang duduk di bawah pohon. Tidak lama setelah ia melihat Jipal, Jani langsung menghampiri Jipal.

"Hai Jipal, lama kita ga ketemu." ucap Jani dengan tersenyum kaku.

"Hai juga Jani. Ada perlu apa lo samperin gue ?" tanya Jipal tanpa basa-basi.

"Sebenernya ada yang mau gue omongin sama lo." ucap Jani.

"Lo mau ngomong apa sama gue ?" tanya Jipal.

"Sebenernya gue mau minta maaf atas sikap gue selama ini yang ga baik sama lo." jawab Jani.

"Gue udah maafin lo dari lama kok. Lagipula, kan lo bersikap kayak gitu juga karna salah gue juga jadi wajar kalo lo bersikap kayak kemaren." ucap Jipal.

"Makasih Pal lo udah maafin gue." jawab Jani.

"Iya sama-sama Jan." jawab Jipal.

"Oiya sebenernya ada yang mau gue kasih tau ke lo." ucap Jani.

"Lo mau ngasih tau apa Jan ?" tanya Jipal.

"Gue udah mau buka hati buat lo Pal." jawab Jani.

"Hah lo serius Jan mau buka hati lo buat gue ?" tanya Jipal untuk memastikan.

"Iya gue serius Jipal." jawab Jani.

"Makasih ya Jan lo udah mau buka hati lo buat gue." ucap Jipal.

"Iya sama-sama Pal. Gue makasih sama lo karna lo udah sabar sama gue selama ini." ucap Jani.

"Iya sama-sama juga Jan." jawab Jipal.

***

Setelah kejadian tersebut, akhirnya hubungan Jani dan Jipal menjadi membaik. Mereka pun berhubungan selayaknya remaja pada umumnya. Tetapi, baik Jani maupun Jipal tidak ada yang membahas tentang status hubungan mereka. Karena menurut mereka, selagi tidak ada yang merasa rugi karena memiliki hubungan tanpa status atau yang biasa disebut friendzone mereka baik-baik saja.

                                                                                               ***

***

Beberapa bulan kemudian......

Hubungan Jani dan Jipal sampat saat ini masih berjalan dengan baik. Namun, saat menjelang Ujian Nasional hubungan Jani dan Jipal menjadi sedikit renggang. Entah apa yang menjadi penyebab renggangnya hubungan Jani dan Jipal. Suatu ketika, Jipal merasa ada yang aneh dengan sikap Jani belakangan ini. Akhirnya, Jipal pun memberanikan diri untuk menanyakan langsung kepada Jani agar ia tidak penasaran karena hubungannya dengan Jani semakin menjauh.

Namun, berkali-kali Jipal ingin mendekati Jani, ia seolah-olah menghindar dan pergi dari hadapan Jipal. Hal tersebut semakin membuat Jipal yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Jani.

Hingga suatu ketika, Jipal diam-diam mengikuti perginya Jani, ternyata Jani masuk ke perpustakaan. Akhirnya Jipal ikut masuk dan bersembunyi di dalam perpustakaan. Saat waktu dirasa pas, Jipal menghampiri Jani secara diam-diam dan dari belakang agar Jani tidak melihatnya.

Akhirnya Jipal berhasil duduk di sebelah Jani, Janipun segera bangkit, belum sempat pergi tangannya sudah dicekal oleh Jipal. Akhirnya secara terpaksa mereka berdua memulai obrolan.

"Jan, lo kenapa sih, akhir-akhir ini lo menjauh dari gue, tiap ketemu gue jangankan ketemu, liat gue aja lo langsung pergi. Sebenernya ada apa sih, cerita dong sama gue." Jipal yang memulai obrolan

"Gk, itu cuma perasaan lo aja kali, gue biasa aja tuh" Jani berusaha mengelak

"Apa iya cuma perasaan gue aja, ahh tapi enggak deh, gue ngerasa dia emg ngejauhin gue" Jipal berperang dalam batinnya.

"Udah gk ada lagi kan? Udah ya gue mau pergi dulu mau belajar, bayy." Jani tergesa-gesa keluar dari perpus.

"Eh tunggu dulu, yah udah pergi duluan, kenapa si sebenernya ?" Jipal frustasi karena tidak mendapat jawaban yang jelas dari Jani.

Hingga tidak terasa, UNpun selesai. Setelah insiden obrolan di perpus, Jipal dan Jani sudah tidak terlibat obrolan dan tidak pernah saling bertemu, walaupun mereka satu sekolah. Hubungan mereka pun dirasa sudah sangat renggang. Karena tidak sabar dan merasa penasaran bagaimana kelanjutan hubungan mereka, Jipal pun mulai mencari kembali keberadaan Jani. Ia menemukan Jani di taman belakang sekolah yang sepi sehingga ia bisa dengan leluasa mengobrol dengan Jani.

"Hai Jan, lama yaa kita gak kaya gini lagi, ngobrol bareng, nongki bareng, main bareng, padahal kita satu sekolah, kangenn deh masa-masa itu lagi." Jipal bercerita sambil matanya menerawang ke depan memutar kembali kenangan dulu

Jani pun terdiam cukup lama, sambil memikirkan jawaban apa yang akan diberikan untuk Jipal. Akhirnya, tidak lama setelah itu Jani pun angkat bicara. Berusaha memberikan penjelasan yang selama ini ingin ia jelaskan kepada Jipal.

"Pal, sebelumnya gue minta maaf yaa atas sikap gue kemarin pas di perpus, gue cuek banget sama lo, bahkan langsung tiba-tiba pergi. Terus juga, sebenernya, ada yang mau gue omongin ama lo Pal." ucap Jani kepada Jipal.

"Lo mau ngomong apa Jan ? Kalo lo mau ngomong, ngomong aja kali gausa canggung kek gini. Kek ama siapa ae anjir lu." balas Jipal.

"Jipal, kayaknya kita sampe disini aja ya. Soalnya, gue udah gabisa sama lo lagi. Gue harap, setelah ini lo bakal bahagia ya Pal." ucap Jani kepada Jipal.

"Mmaksud lo apa Jan ngomong kayak begitu ? Gue ga ngerti lo ngomong apa Jan." Tanya Jipal kepada Jani karena ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Jani.

"Gue maunya kita cukup jadi teman aja. Karena, untuk saat ini gue mau lanjutin pendidikan gue dulu. Maaf ya pal, dan terimakasih untuk semua kenangannya, gue seneng bisa punya kenangan indah sama lo." Ucap Jani kepada Jipal.

Jipal sempat merasa kaget, namun dia mencoba bersikap biasa saja, walaupun dalam hatinya sangat merasa sedih.

"Oh oke, klo emang ini yang lo mau, gue turutin kok, semangatt menempuh pendidikan yang lebih tinggi yaa, janji sama gue lo harus sukses. Kalo lo ga sukses gue akan marah sama lo." Ucap Jipal dengan lapang dada menerima kenyataan ini.

"Lo juga pal, harus sukses. Awas aja sampe lo ga sukses, gue gamao jadi temen lo lagi haha." balas Jani.

Akhirnya, mereka berdua menautkan jari mereka sebagai tanda janji. Untuk saling memperbaiki diri untuk sebuah pembuktian bahwa janji harus ditepati.

                                                                             -TAMAT-

 

 

Komentar